Untuk Anda Kami Ada

Goa Sentono

Goa Sentono

Goa Sentono merupakan tempat wisata alam yang dipadu dengan kisah sejarah tersendiri, dan menjadi salah satu cagar budaya yang wajib untuk dikunjungi ketika berada di Kabupaten Blora.

Keunikan dan keindahan Goa Sentono mempunyai nilai dan daya tarik tersendiri, dimana batuan alami yang indah berpadu dengan hijaunya area pesawahan menciptakan pemandangan yang sangat unik.

Lokasinya lebih dekat jika ditempuh dari Kecamatan Cepu atau Randublatung. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi goa ini. Namun jangan heran sepanjang perjalanan akan banyak melihat landscape pemandangan sawah, hutan dan pegunungan.

Akses ke lokasi goa ini bisa ditempuh dengan motor. Sesampainya di lokasi Dukuh Sentono Desa Mendenrejo ada semacam gubuk kecil untuk berteduh. Dari gubuk tersebut ke Goa Sentono harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter. Goa sentono persis ada di pinggiran Sungai Bengawan Solo.

Goa Sentono berada di pegunungan kapur. Bibir goa tidak jauh dari tebing Sungai Bengawan Solo. Lebar goa sekitar 3 meter dengan ketinggian sekitar 2,5 meter dan kedalaman hingga sekitar 10 meter. Jika dilihat ke dalam bentuknya semakin mengerucut. Sehingga semakin ke dalam pengunjung harus membungkuk. Bagian dalam goa terlihat gelap karena minimnya penerangan.

Sebelum memasuki kawasan goa, pengunjung merasa seperti berada di lembah. Sepanjang mata memandang terdapat hamparan Sungai Bengawan Solo dari ketinggian tertentu. Hawa sejuk menyapa dikala angin berhembus. Tentu pemandangan alam disebelah sungai terpanjang di Pulau Jawa ini menjadi suatu suguhan wisata yang mengguratkan keindahan.

Dari lembah tersebut berjalan menurun di bebatuan 200 meter pengunjung harus berhati-hati karena jalan bebatuan cukup curam. Dari atas hanya tampak batu besar. Namun setelah sampai di bawah barulah kelihatan Goa Sentono.

Perpaduan pegunungan, goa dan sungai ini justru menjadi daya tarik para penghobi fotografi. Sering para fotografer datang ke Goa Sentono. Cukup banyak angle saat memotret di lokasi ini. Kebanyakan yang kesini para remaja.

Goa Sentono juga sarat nilai sejarah. Banyak versi yang menjelaskan bahwa goa ini ada kaitannya dengan sejarah Desa Mendenrejo, namun dengan versi yang berbeda-beda dari cerita rakyat setempat. Ada yang mengatakan berkaitan dengan cerita Blacak Ngilo dan Sunan Bonang.

Blacak Ngilo adalah seorang prajurit Majapahit yang melarikan diri saat perang saudara memperebutkan kekuasaan Majapahit. Ada pula yang mengatakan bahwa goa ini dulu pernh dijadikan tempat semedi Sunan Bonang untuk bertapa di tepi Sungai Bengawan Solo.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Goa Sentono, penting untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membawa bekal yang cukup, serta berhati-hati selama perjalanan. Goa Sentono bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga situs budaya yang penuh dengan sejarah dan cerita mistis yang patut dilestarikan.Paket liburan terbaik

Goa Sentono adalah pilihan tepat bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam dengan nilai-nilai sejarah. Pesona alam dan keunikan sejarahnya membuat Goa Sentono menjadi salah satu destinasi yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Blora.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan

Komplek Makam Gedong Ageng Jipang

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, (berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu) berupa makam Gedong Ageng. Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil.

Pada jamannya tempat ini merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang. Di tempat ini ada makam kerabat Kadipaten Jipang, diantaranya makam R. Bagus Sosrokusumo, R. Bagus Sumantri, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Peninggalan lainnya adalah Makam Santri Songo, yang berada di sebelah Utara Makam Gedong Ageng, berupa makam sembilan santri yang diduga mata-mata Pajang yang ditangkap dan dibunuh oleh prajurit Jipang.

Selain itu ada juga Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid Jipang Panolan, Petilasan Semayam Kaputren, dan Petilasan Siti Hinggil.

Menurut juru kunci Makam Gedong Ageng, Salekun (50), setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke makam. Tidak saja dari daerah di sekitarnya, tapi juga dari luar daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini, banyak pula yang datang dengan hajat tertentu.

Setiap pengunjung Petilasan Kadipaten Jipang Panolan ini harus menjaga sopan santun, terutama saat masuk ke lingkup makam. Menurut juru kunci Salekun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan itu antara lain dilarang membawa benda-benda yang ada di lingkungan makam, bahkan secuil tanah pun.

Pengunjung juga diminta untuk uluk salam terlebih dahulu saat akan masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada dalam kompleks makam.

“Kalau pantangan-pantaangan ini dilanggar biasanya ada kejadian yang tidak baik menimpa orang tersebut”, ujarnya.

Warga Jipang juga memiliki tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini disebut dengan manganan dan biasanya dilakukan di makam Gedong Ageng. Setidaknya ada tiga acara manganan, yakni saat turun hujan pertama kali, saat tanam padi, dan saat panen. Acara ini biasanya disertai dengan pertunjukan seni tradisi, seperti ketoprak, wayang krucil, wayang kulit, atau seni tradisi yang lain.

Kampung Durian Nglawungan

Kampung Durian Nglawungan


Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah kini semakin indah dan menarik. Letaknya tidak jauh dari kota Blora, hanya sekitar 11 Km dengan akses jalannya sudah cukup bagus untuk dilalui kendaraan roda empat, maupun roda dua.

Menariknya di kampung durian nglawungan sekarang sudah dibangun joging track, sehingga pengunjung bisa berolahraga, bisa memetik sendiri buah durian dan makan ditempat. Rasanya pun legit dan bikin ketagihan, jenis duriannya ada Montong, Tampar, dan lokal.

Pengunjung di kampung durian nglawungan tidak hanya dari warga lokal Blora saja, namun datang dari luar kota, seperti Semarang, Rembang dan Kabupaten terdekat yang lainnya.

Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini tergolong legendaris. Ini lantaran sebelum menjadi destinasi wisata kampung durian tahun 2017 oleh Pemerintah Desa di Blora. Penduduk setempat sudah menanami lahannya dengan pohon durian. Dan para penduduk ini mewarisinya dari para leluhurnya terdahulu.

Konon katanya setiap tahun sekali saat musim panen. Para penduduk mengadakan sedekah terlebih dahulu berupa nasi ingkung atau nasi tumpeng dengan ayam bakar utuh. Dengan harapan agar hasil panennya melimpah.

Untuk melestarikan budaya kearifan lokal itu, Kepala Desa setempat tetap melaksanakan sedekah tersebut hingga sekarang. Sedekah itu bernama sedekah Durian.

Goa Terawang

Goa Terawang - Todanan

Goa Terawang Todanan di Kedung wungu Blora Jawa tengah adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa kedung wungu, kecamatan todanan, kabupaten blora, provinsi jawa tengah. Lokasinya berjarak 32 kilometer arah barat Kota Blora atau 107 kilometer dari Kota Semarang.

Untuk menuju ke Goa Terawang sudah tersedia jalan desa yang mulus, dapat ditempuh dari Semarang-Purwodadi-Wirosari menuju ke Kunduran Kabupaten Blora. Tepat di pertigaan depan Puskesmas Kunduran, pengunjung bisa belok kiri melintasi jalan desa yang mulus sepanjang lebih kurang 8 kilometer.

Goa Terawang berada persis di tepi jalan. Kalau dari Blora, pengunjung menuju ke arah pertigaan Pasar Ngawen, kemudian membelok ke kanan melintasi jalan menuju ke Japah, Padaan, Ngapus, hingga Todanan atau sekitar 10 kilometer.

Goa Terawang ini sudah dikenal sejak zaman raja-raja Jawa untuk tempat bertapa guna memperoleh kekuatan mistis.Pada masa pemerintahan Belanda, Goa Terawang ini banyak menyimpan sejarah karena sering digunakan untuk pertemuan Bupati Blora semasa RMA Cokronegoro dengan pejabat-pejabat Belanda. Namun, pada masa perang kemerdekaan, Goa Terawang ini menjadi daerah pertahanan bagi para pejuang.

Goa Terawang merupakan kompleks goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan, ini terbanyak di Jateng. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu terdapat satu goa induk, satu sendang, dan lima goa kecil lainnya. Merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang di siang hari karena terkena sinar matahari.

Disekitar kawassan Goa Terawang terdapat arena bermain anak yang terletak 50 meter dari mulut goa, yang terasa sejuk karena dipayungi ratusan pohon jati besar.

Suasana baru di Goa Terawang

Kondisi Gua Terawang saat ini mulai dibenahi, pengunjung bisa bersantai di dalam gua sekaligus menikmati keindahan stalaktit ratusan tahun. Hal itu lantaran, di dalam gua disediakan kursi dan meja dengan lampu-lampu hias warna-warni, yang semakin memanjakan mata pengunjung.

Waktu yang tepat untuk berkunjung di gua ini adalah saat siang hari, karena keindahan gua ini akan semakin terlihat saat sinar matahari mulai masuk ke dalam gua melalui lubang-lubang kecil yang ada di langit-langitnya.

Administratur Perum Perhutani KPH Blora, Yeni Ernaningsih, mengatakan: Gua Terawang ini merupakan salah satu obyek wisata yang dimiliki oleh perum Perhutani yang terletak di wilayah pangkuan perum Perhutani KPH Blora yang terletak di RPH Kalonan BKPH Kalonan.

Noyo Gimbal

Noyo Gimbal - Desa Bangsri

Desa Bangsri di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, kini memiliki ikon baru yang menambah daya tarik wisatanya. Sebuah patung megah yang menggambarkan sosok Noyo Gimbal atau Noyo Sentiko, tokoh legendaris dalam sejarah perjuangan rakyat Blora, resmi berdiri dan mulai menyedot perhatian banyak wisatawan.

Antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap Patung Noyo Gimbal begitu tinggi. Setiap akhir pekan, lokasi ini dipadati pengunjung yang ingin berfoto maupun mengenal lebih jauh kisah heroik Noyo Gimbal. Fenomena ini juga berdampak positif terhadap ekonomi warga, dengan meningkatnya pendapatan dari usaha kecil seperti kuliner dan cenderamata.

Lebih jauh, Pemerintah Desa Bangsri telah merancang pengembangan kawasan sekitar menjadi taman edukasi sejarah. Dengan konsep ini, wisatawan akan diajak mengenal lebih dalam perjalanan perjuangan rakyat Blora melalui cara-cara interaktif dan menyenangkan, memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal.

Patung Noyo Gimbal tidak hanya menjadi lambang estetika, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan warisan budaya Blora kepada generasi muda. Dengan pendekatan kreatif, desa ini membuktikan bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan wisata.

Noyo Gimbal, sebuah kawasan wisata alam dan pertanian, Desa Bangsri telah menarik perhatian banyak wisatawan sejak dibuka pada Juni 2023. Dibangun dengan semangat swadaya, bantuan dana desa, dan dukungan Banprov, proyek ini menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong perekonomian masyarakat setempat.

Noyo Gimbal menawarkan pengalaman unik yang memadukan hijauan sawah, kolam mina padi, dan suasana pedesaan yang tenang. Pengunjung bisa menikmati suasana alam yang sejuk sambil menikmati spot-spot foto yang menarik. Dengan dukungan komunitas lokal dan inisiatif masyarakat, Noyo Gimbal tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan wadah kreativitas bagi penduduk desa.

Noyo Gimbal adalah contoh nyata bahwa visi, semangat, dan kerjasama, mengubah desa kecil menjadi destinasi wisata yang menarik. Melalui kesungguhan dan semangat gotong royong, Desa Bangsri membuktikan bahwa dari sawah sederhana, mimpi besar bisa terwujud dan mensejahterakan seluruh warga desa.

Nyasar Di Tempat Yang Sunyi Dan Damai Di Bendung Goa Landak

Bendung Goa Landak

Awal yang tak sengaja, karena tujuan sebenarnya hanya ingin bersepeda menikmati suasana pemandangan pedesaan, persawahan dan hutan disepanjang perjalanan yang saya rencanakan bisa sampai ke jurangjero, bogorejo. Tentu saja perjalanan dengan bersepeda ini akan memakan waktu sekitar 90 menit, mengingat jaraknya yang cukup jauh sekitar 25 Km.

Sepanjang perjalanan, tak ada halangan berarti karena menyusuri jalanan beraspal yang cukup bagus sebagai jalan penghubung antara kecamatan jepon dan kecamatan bogorejo. Tetapi untuk sampai ke desa jurangjero, saya harus mengambil jalan ke utara setelah sampai di pertigaan pasar karang.

Perjalanan dengan bersepeda terus berlanjut hingga melewati dua jembatan dan jalan cor beton di desa karang, dan kemudian perjalanan berat dimulai. Saya merasakan beratnya mengayuh sepeda di jalan berbatu dan kondisi jalan yang menanjak kearah utara, satu- satunya akses jalan ke desa jurangjero.

Jika dicermati, sepertinya kondisi jalan ini sudah pernah di aspal. Mungkin karena kualitas pengerjaan atau material yang digunakan untuk membangun jalan yang tidak bagus, hingga menjadi lebih cepat rusak. Terlihat batuan kricak dan sisa- sisa aspal terkelupas berserakan, hingga terlihat lapisan dasar jalan berupa batuan kapur.

Untungnya selama perjalanan terhibur dengan suasana desa yang penuh dengan keramahan penduduknya. Beberapa kali berhenti dan mampir di warung, sekedar untuk bercengkerama dengan pemiliknya dan bertanya soal arah jalan mana yang harus saya ambil agar tidak nyasar.

Setelah beberapa menit melanjutkan bersepeda, tanpa terasa melewati lahan persawahan yang sedang menguning. Terlihat beberapa orang sedang mengangkut jerami dengan menggunakan motornya, rupanya ada pemilik sawah yang sedang panen padi. Tak ada salahnya untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan sawah dan melihat para petani yang sedang panen. Tentunya ini bisa menjadi hiburan tersendiri.

Setelah puas mengabadikan beberapa moment panen padi, perjalanan berlanjut dan masih dalam kondisi jalanan desa yang cukup berat untuk dilalui. Kondisi jalan yang sepi dan rumah penduduk yang mulai jarang, tak ada seorang pun yang bisa ditanya. Sampailah disebuah pertigaan jalan di pinggir sebuah desa yang saya tak tahu namanya.

Hampir tiga puluh menit berhenti, beristirahat, dan berharap banyak ada orang yang lewat untuk sekedar bertanya arah jalan, tetap saja tak ada yang lewat. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil jalan kearah kanan yang menanjak dan masuk kelingkungan desa.

Sekali lagi keramahan penduduk desa yang terlihat sepanjang perjalanan membuat saya berhenti dan menanyakan arah jalan. Kondisi jalan yang menanjak dan jumlah rumah penduduk yang masih sedikit, membuat saya bebas mengarahkan pandangan untuk sekedar menikmati suasana desa yang sepi dan berudara sejuk.

Tanpa sengaja saya melihat sebuah kawasan yang cukup luas dengan air yang cukup melimpah, sepertinya sebuah embung atau bendungan. Posisinya berada di sebelah barat desa, di tengah lahan persawahan. Saya pun akhirnya harus kembali turun ke pertigaan jalan dipinggir desa tadi. Ternyata jalan terdekat dan mudah menuju ke kawasan itu adalah dari pertigaan jalan pinggir desa kearah kiri.

Menyusuri jalan tanah dan dibagian pinggirnya ada saluran air atau lebih tepatnya irigasi, dan tak membutuhkan waktu lama pun akhirnya sampai juga ke kawasan ini.

Pintu air
Bendung Goa Landak

Ternyata namanya "Bendung Goa Landak" dan saya tak tahu mengapa dinamakan demikian. Setelah saya menanyakan ke beberapa orang yang saya jumpai, nama itu di ambil dari beberapa goa atau lubang- lubang besar yang ada disekitar pintu air yang saat ini telah ditutup.

Perluasan kawasan bendungan dan perbaikan pintu air, menyebabkan goa- goa itu harus ditutup agar air yang tertampung dibendungan tidak masuk ke goa- goa atau lubang- lubang itu. Mengenai hewan Landak yang menghuni goa- goa itu, penduduk desa pun tak ada yang tahu karena keberadaan landak itu hanya cerita turun- temurun saja.

Melihat- lihat sekeliling bendung goa landak ini, membuat saya harus membatalkan tujuan semula. Suasana yang jauh dari kebisingan suara knalpot, polusi udara, dan tentunya pemandangan sekitar bendung goa landak, membuat saya betah berlama- lama untuk menikmatinya. Bersepeda ke jurangjero akan saya lakukan lain waktu saja.

Irigasi Bendung Goa Landak


Sepertinya bendung goa landak ini sudah sejak lama ada, tentu saja kondisinya tidak seperti saat ini. Ini terlihat dari bangunan pintu air yang masih menggunakan struktur konstruksi bangunan yang lama. Jika diamati lebih detail, konstruksi pintu air mirip bangunan jaman orde lama dan masih difungsikan.

Sejauh mata memandang kearah selatan, ternyata bendung ini bisa mengairi lahan persawahan yang sangat luas pada musim penghujan. Sayangnya saat ini sedang musim kemarau, hingga airnya surut tidak bisa untuk mengairi sawah. Sedangkan pada bagian utara adalah landscape perbukitan kapur dan hutan jati.

Keberadaan Bendung Goa Landak ini belum banyak yang mengetahui, termasuk saya yang baru pertamakali menginjakkan kaki disini. Tentunya inilah pengalaman "Nyasar Di Tempat Yang Sunyi Dan Damai Di Bendung Goa Landak", untuk pertamakalinya saat bersepeda menikmati suasana pedesaan yang jaraknya bisa dibilang cukup jauh dari pusat kota blora.

Kecamatan Japah


Japah adalah sebuah kecamatan yang terletak di sebelah barat Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak pada 111°016 - 111°338 Bujur Timur dan di antara 06°528’ - 07°248’ Lintang Selatan.

Wilayah Kecamatan Japah bagian selatan terdiri dataran rendah dan tanahnya subur, jalan datar beraspal baik, sementara wilayah bagian timur merupakan kawasan hutan jati milik Perhutani yang terdapat dataran tinggi dan tanahnya subur, jalan beraspal rusak. Wiayah bagian barat terdapat kawasan hutan jati milik Perhutani yang terdapat dataran tinggi, tanahnya subur, jalan beraspal baik, sementara wilayah bagian Utara terdapat kawasan hutan jati yang luas milik perhutani dataran tinggi, tanah berbatu, dan jalan beraspal rusak.

Desa/kelurahan

1. Beganjing
2. Bogem
3. Bogorejo
4. Dologan
5. Gaplokan
6. Harjowinangun
7. Japah
8. Kalinanas
9. Krocok
10. Ngapus
11. Ngiyono
12. Ngrambitan
13. Padaan
14. Pengkolrejo
15. Sumberejo
16. Tengger
17. Tlogowungu
18. Wotbakah

Separuh dari wilayah Kecamatan Japah merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan barat dan dataran rendah di bagian selatan umumnya merupakan areal persawahan yang subur. Sebagian besar wilayah Kecamatan Japah merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.

Wilayah Kecamatan Japah beriklim Tropis dan suhu udara rata–rata 32º C. Pada musim kemarau, yakni antara bulan April hingga Oktober suhu udara rata–rata 34 ºC dan 38 ºC, sementara pada musim penghujan, yakni antara bulan Oktober hingga April suhu udara rata – rata 32 ºC dan 34 ºC. Keadaan angin pada musim penghujan sangat kencang dari arah barat daya dan Utara.

Daerah Kecamatan Japah pada musim hujan sering terjadi banjir, karena tidak adanya selokan yang memadai sehingga mengakibatkan banyaknya genangan air yang akan mengakibatkan jalan beraspal menjadi rusak, juga banyak terjadi tanah longsor. Pada musim kemarau Kecamatan Japah sering terjadi kekeringan,sulit untuk mendapatkan air dan disisi lain sering terjadi kebakaran. Daerah Kecamatan Japah merupakan daerah lahan kritis dan tandus, sehingga pendapatan perkapita rendah, juga tergolong ekonomi rendah, sehingga Kecamatan Japah dapat disebut daerah staguna (daerah mandek).

Popular Posts

Labels

close