Blora Online

Untuk Anda Kami Ada

Desa Bangowan


Desa Bangowan, merupakan contoh nyata dari kekayaan budaya dan potensi alam yang dimiliki oleh daerah pedesaan. Berada di Kecamatan Jiken, Desa Bangowan dikenal sebagai Desa Wisata Bangowan, yang menawarkan berbagai atraksi menarik seperti Sanggar Seni Tayub Krawitan, di mana pengunjung dapat belajar tentang seni tari dan musik tradisional.

Selain itu, desa ini juga memiliki pertunjukan Wayang Thengul yang berusia lebih dari seratus tahun, serta agrowisata kebun sawo organik yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Dengan pemandangan alam yang indah dan tradisi budaya yang kaya, Desa Bangowan menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan keaslian kehidupan pedesaan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal.

Penasaran dengan Desa Bangowan, desa di Blora yang punya segudang pesona wisata? Yuk simak tulisan berikut ini:

Desa Bangowan, terletak di Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merupakan destinasi wisata yang menarik dengan kombinasi pesona alam dan budaya lokal yang kaya. Desa ini dikenal sebagai Desa Wisata Bangowan, yang menawarkan berbagai atraksi dan pengalaman unik bagi pengunjung.

Desa Bangowan dikelilingi oleh perbukitan kapur utara, memberikan pemandangan alam yang menakjubkan serta udara segar.

Aktivitas trekking di hutan hijau dan menikmati pemandangan dari puncak bukit menjadi daya tarik utama.

Selain itu, desa ini juga memiliki budaya lokal yang otentik, termasuk pertunjukan seni tradisional seperti Wayang Thengul, yang merupakan salah satu warisan budaya tertua di daerah tersebut.

Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, belajar tentang tradisi dan adat istiadat mereka, serta menikmati kuliner khas yang ramah lingkungan.

Desa ini juga dikenal dengan produk pertanian organiknya, terutama buah sawo, yang memiliki cita rasa legit dan telah mendapat sertifikasi keorganikan.

Desa Bangowan menawarkan berbagai paket wisata untuk memenuhi minat pengunjung, termasuk:

- Trekking dan camping di Bukit Kunci
- Outbound dan kegiatan edukasi
- Wisata kuliner dengan menu khas lokal
- Agrowisata di kebun buah sawo organik

Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang mendalam tentang alam dan budaya desa.

Desa Bangowan baru-baru ini berhasil masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Hal ini menunjukkan potensi besar desa ini dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan fokus pada pelestarian alam dan budaya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga mengapresiasi upaya pengembangan desa ini, menekankan pentingnya promosi digital untuk menarik lebih banyak pengunjung.

Dengan kombinasi keindahan alam, kekayaan budaya, dan inisiatif pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, Desa Bangowan menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman autentik di Jawa Tengah.

Atraksi Wisata di Desa Bangowan

1. Sanggar Seni Tayub Krawitan

Sanggar ini merupakan tempat di mana pengunjung dapat belajar tentang seni tayub dan krawitan, yang merupakan kesenian khas daerah Blora. Seni tayub adalah bentuk pertunjukan tari yang biasanya diiringi oleh musik gamelan.

Aktivitas: Wisatawan dapat berpartisipasi dalam pelatihan gamelan dan tari tayub yang diajarkan oleh para ahli, memberikan pengalaman langsung dalam seni tradisional ini.

2. Wayang Thengul

Pertunjukan wayang thengul yang berusia lebih dari 100 tahun, merupakan salah satu aset budaya desa. Wayang ini masih dipentaskan secara rutin dan menjadi bagian penting dari tradisi lokal.

Aktivitas: Pengunjung dapat menyaksikan pagelaran wayang, belajar mendalang, serta mewarnai replika patung wayang sebagai souvenir.

Sebuah lokasi camping yang menawarkan pemandangan indah dari perbukitan kapur utara.
Aktivitas: Trekking, glamping, dan menikmati pemandangan alam yang memukau

4. Agrowisata Kebun Sawo

Kebun buah sawo organik yang dikelola oleh masyarakat setempat.
Aktivitas: Wisatawan dapat belajar cara memetik buah sawo dan membawa pulang sebagai oleh-oleh.

5. Megantara Farm
Peternakan bebek milik warga yang memberikan wawasan tentang beternak.
Aktivitas: Berinteraksi dengan hewan ternak dan belajar tentang proses beternak.

6. Sumur Minyak Tua
Situs bersejarah peninggalan Belanda yang memberikan informasi tentang sejarah industri minyak di wilayah tersebut.
Aktivitas: Mengunjungi dan belajar tentang sejarah serta dampaknya pada masyarakat lokal.

Desa Bangowan, merupakan salah satu destinasi wisata yang kaya akan budaya dan keindahan alam. Dikenal sebagai Desa Wisata Bangowan, desa ini menawarkan berbagai atraksi menarik bagi para wisatawan.

Oro- Oro Kesongo


Oro-Oro Kesongo yang terletak di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, menjadi fenomena alam yang unik dan penuh mitos. Kawasan ini dikenal dengan semburan lumpur dan gas belerang yang menjadikannya sebagai destinasi yang menarik perhatian.

Menurut ahli geologi, fenomena semburan lumpur pertanda adanya kandungan minyak dan gas di bawah tanah. Oro-Oro Kesongo merupakan gunung lumpur atau mud volcano, yang berbeda dengan fenomena lumpur panas di Sidoarjo (Lumpur Lapindo). Gas yang keluar dari lumpur ini mengandung hidrogen sulfida (H?S), gas beracun yang berbahaya jika terhirup dalam jumlah besar.

Oro- oro Kesongo terletak di Zona Kendeng, yang juga mencakup Kabupaten Grobogan, Rembang, dan beberapa wilayah di Jawa Timur. Di kawasan ini, semburan lumpur sering terjadi, meskipun intensitas dan kekuatannya beragam. Semburan besar terakhir tercatat pada tahun 2016, dengan lumpur mencapai ketinggian empat meter.

Meski memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata, pengembangan kawasan Oro-Oro Kesongo masih terhambat kondisi infrastruktur yang belum memadai, seperti jalan tanah berbatu yang licin saat hujan, membuat akses menuju lokasi ini cukup sulit.

Selain semburan lumpur yang menjadi daya tarik utama, kawasan Oro-Oro Kesongo juga dikenal karena keberadaan burung bangau putih dan hitam, serta endemik burung dan jamur derik yang hanya dapat ditemukan di sini. Meskipun banyak yang datang untuk melihat fenomena alam ini, tak sedikit pula yang masih percaya bahwa tempat ini memiliki aura mistis dan menjadi lokasi ritual.

Namun, meski sering dipromosikan melalui media sosial dan dijadikan bahan penelitian, masyarakat lokal mengeluhkan bahwa banyak warga Blora sendiri yang belum mengenal atau mengunjungi Oro-Oro Kesongo. Sebaliknya, justru pengunjung dari luar kabupaten yang lebih banyak datang untuk melihat fenomena alam ini secara langsung.

Oro-Oro Kesongo, dengan segala keunikan alam dan mitosnya, memiliki potensi besar untuk menjadi ikon wisata di Blora. Namun, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya untuk menjadikannya destinasi yang aman dan nyaman bagi para wisatawan. Dengan pembenahan infrastruktur dan pengelolaan yang baik, kawasan ini dapat menjadi salah satu daya tarik utama di Jawa Tengah, tidak hanya bagi pencinta alam, tetapi juga bagi mereka yang tertarik pada sejarah dan mitos lokal.

Buat anda yang berminat mengunjungi Oro-Oro Kesongo, sangat disarankan untuk mematuhi peraturan setempat, seperti tidak mengambil apapun dari lokasi dan selalu berhati-hati di sekitar semburan lumpur. Pesona alam yang eksotis dan cerita mistis yang melingkupinya akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan.

Dinding Sungai Purba Kalinanas


Keindahan potensi alam kelokan Dinding Sungai Purba Kalinanas yang eksotis, tepat di bawah Jembatan Merah di Desa Kalinanas kecamatan Japah Kabupaten Blora, perlu dijaga agar tetap lestari dan terbebas dari tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab.

Dinding Sungai Purba Kalinanas itu punya nilai geologi yang tinggi. Proses terjadinya pun melalui proses alam yang tidak berlangsung sebentar, namun sejak jutaan tahun lalu. Sehingga kini menghasilkan dinding sungai yang berelief unik dan patut dijaga kelangsungannya.

Saat kemarau semua relief alamnya kelihatan seperti pahatan yang teratur seperti buatan manusia namun ini asli hasil proses geologi alam. Jutaan tahun batuan disini tergerus arus sungai sehingga membentuk alur yang indah. Ini akan sangat menarik bagi wisatawan jika dikemas dengan baik.

Jika ingin berkunjung ke Dinding Sungai Purba Kalinanas, pengunjung bisa melewati wilayah Pati, Rembang, dan Blora. Jika dari wilayah Pati, para pengunjung bisa melawati Kecamatan Jaken, jika dari Rembang para pengujung bisa melewati Kecamatan Sumber. Sedangkan jika dari wilayah Blora, untuk menuju Sungai Purba Kalinanas ini, memerlukan waktu sekitar 40 menit.

Dari pusat Kecamatan Japah, tepatnya pertigaan barat Masjid Agung Japah, ambil arah utara menuju Desa Kalinanas yang berjarak sekitar 8 kilometer, melalui Desa Bogem dan Desa Gaplokan.

Begitu masuk Desa Kalinanas, sesampai di pertigaan Pohon Beringin besar, kendaraan bisa diparkir di halaman rumah warga dan berjalan kaki melalui bekas jalur rel kereta ke arah barat sejauh 100 meter, menuju Dinding Sungai Purba Kalinanas.

Sunan Pojok


Sunan Pojok bernama asli Pangeran Surobahu Abdul Rohim dan ayahnya bernama Kyai Ashari seorang sunan pejagong Tuban. Selain sebagai panglima perang kerajaan Mataram beliau juga berjasa besar dalam penyebaran agam islam. Selama hidup beliau setia mengabdikan diri pada pemerintahan kerajaan Mataram.

Selain sebagi seorang panglima perang yang berasal dari Mataram atau Yogyakarta beliau juga adalah seorang Adipati Tuban. Beliau juga sangat dikenal dalam menyebarkan agama Islam khususnya di Wilayah Blora. Jejak sejarahnya dapat dilihat dari peninggalannya yaitu masjid agung baitunnur Blora.

Sunan Pojok dikenal dengan beberapa nama panggilan yaitu Mbah Benun, pangeran Sedah, Syeh Abdurrohim dan Pangeran Surobahu. Semasa kecil bernama pangeran Surobahu. Mempunyai silsilah mbah Benun wali pojok bin Pangeran Ronggo Sedayu, bin panembahan marengat bin Pangeran Singabarong.

Pangeran Pojok merupakan putra dari pangeran Ronggo Sedayu. Sedangkan pangeran Ronggo Sedayu ini adalah putra dari panembahan marengat, beliau ini putra dari pangeran Singabarong. Sedangkan pangeran Singabarong ini merupakan menantu dari sunan Kudus. Beliau dikenal juga dengan pangeran Djafar Sodiq. Pangeran Djafar sodiq sendiru adalah putra sunan Ngudung atau raden Usman Haji.

Sunan Ngudung merupakan putra dari ratu Fatimah dan Kholifah Husein. Ratu Fatimah sendiri adalah putrinya sunan Ampel. Sedangkan Kholifah Husein ini adalah putra dari Raden Aryo Bariben. Beliau ini adalah seorang menantu cucu yang ke 13 dari Raden Brawijaya seorang Raja Majapahit. Dengan demikian silsilah sejarah sunan pojok mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Majapahit.

Beliau adalah salah seorang yang sangat berjasa dalam mengusir penjajahan Belanda. Terutama yang berada di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Sebagai seorang panglima perang beliau juga telah membuktikan kiprahnya atas sebuah kemenangan atas VOC pada 20 November 1626 kepada Sultan Agung Hayokrokusumo.

Kemenangan ini membuktikan bahwa perlawanan yang dilakukan sunan Pojok dalam melawan VOC di Batavia tidaklah sia-sia. Karena perjuangan yang dilakukannya merupakan satu-satunya kemenangan dalam peperangan melawan VOC.

Atas prestasi kemenangan beliau dalam berperang melawan VOC kemudian sunan Pojok diangkat menjadi seorang Adipati Tuban yang terkenal welas asih. Sebagai Adipati Tuban beliau diberi gelar Pangeran seda pada tahun 1619 Masehi. Beliau memerintah Kadipaten Tuban ini selama 32 tahun.

Selama memangku jabatan sebagai Adipati Tuban sunan Pojok banyak melakukan penumpasan atas kerusuhan yang terjadi di wilayah Tuban. Beliau dibantu oleh 500 prajurit kerajaan Mataram akhirnya mampu menumpas kerusuhan akibat adanya pemberontakan.

Kerusuhan tersebut banyak terjadi akibat beberapa Adipati yang membelot dan memberontak diantaranya Adipati Lasem, Sumenep, Pasuruan dan yang lainnya. Selain itu Karena Tuban juga merupakan salah satu wilayah jajahan VOC yang selalu berusaha memperluas daerah jajahannya. Kadipaten Tuban saat itu belum menjadi bagian dari jajahan VOC.

Selain berhasil menumpas kerusuhan di sekitar wilayah Tuban, sunan pojok juga mempunyai banyak prestasi gemilang. Diantaranya menaklukkan daerah daerah yang menjadi penjajahan VOC. Seperti daerah Pati, Surabaya, Pasuruan dan masih banyak daerah lainnya yang ditaklukkan. Semua daerah tersebut menjadi saksi perjalanan sejarah sunan pojok dalam melawan penjajah.

Setelah 32 tahun memerintah sebagai Adipati Tuban beliau menyerahkan kembali jabatannya kepada Sultan Mataram Amangkurat satu atau sunan Tegal Arum. Kemudian jabatan Adipati Tuban tersebut oleh sunan Tegal Arum diserahkan kepada adik sunan Pojok yaitu pangeran Anom.

Sunan pojok sendiri kemudian menetap di Blora. Hingga kemudian di kadipaten Blora inilah sunan Pojok dikaruniai tiga orang putra yaitu pangeran Kleco, pangeran Sumodipo dan Pangeran Dipoyuda. Dari ketiga putra sunan pojok ini salah satunya kelak menjadi Adipati Blora.

Peran beliau sangat besar dalam memajukan Blora hingga menjadi sebuah kadipaten. Hingga saat ini beliau dikenal dalam sejarah sunan pojok sebagai seseorang yang mempunyai peranan penting dengan lahirnya kadipaten Blora. Sekarang kadipaten Blora ini telah menjadi kabupaten Blora.

Melihat perkembangan Blora yang yang berkembang pesat telah menjadi perhatian sultan Mataram Amangkurat I. Atas inisiatif Sultan Mataram tersebut, Blora kemudian dijadikan sebagai kadipaten tersendiri yang terpisah dari kadipaten Tuban. Kadipaten baru ini kemudian dipimpin oleh putra sunan Pojok yang bernama Adipati Raden Mas Joyodipo.

Sebagai Adipati Blora beliau diberi gelar Raden Tumenggung Joyo Wiryo atau dikenal juga dengan Tumenggung Jatiwiryo. Selanjutnya Adipati Joyodipo ini digantikan oleh menantu beliau yang bernama Raden Tumenggung Joyokusumo sebagai Adipati Blora yang kedua.

Setelah berhasil menumpas semua kerusuhan sunan Pojok kembali ke Mataram untuk melaporkan keberhasilannya kepada sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah kepulangannya dari mataram beliau merasa sangat kelelahan yang mengakibatkan beliau jatuh sakit. Beliau dirawat oleh anaknya yang yang mempunyai sifat sama seperti beliau untuk selalu patuh dan taat terhadap perintah sultan Agung.

Setelah beberapa lamanya sunan pojok jatuh sakit akhirnya beliau meninggal dunia. Kemudian beliau dimakamkan di desa pojok, kecamatan banjarejo Kabupaten Blora. Makam sunan Pojok letaknya sangat strategis berada di dekat alun-alun tepatnya berada di jantung Kota Blora. Demikian juga makam anak dan menantunya yang pernah menjadi Adipati Blora, keduanya dimakamkan dekat dengan sunan Pojok.

Selain kedua makam anak dan menantunya, di situ juga jasad prajurit perang sunan Pojok yang setia dimakamkan. Kawasan pemakaman sunan Pojok sangat asri. Sebagian masyarakat baik dari dalam maupun luar kota tidak pernah berhenti untuk datang dan menziarahi makam beliau di Kota Blora. Selain itu mengunjungi masjid sebagai peninggalan sejarah sunan pojok.

Apalagi kalau hari Jumat makan selalu ramai dikunjungi. Demikian juga setiap tanggal 27 Suro yang merupakan tanggal kelahiran beliau. Biasanya diadakan haul sebagai bentuk penghormatan atas semua jasanya dalam penyebaran agama Islam khususnya di Kota blora.

Semasa hidupnya dalam menyebarkan Agama Islam, sunan Pojok dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang sangat welas asih dalam berdakwah. Meski berbagai jabatan telah disandangnya mulai sebagi Adipati hingga menjadi panglima perang namun beliau lebih memilih berdakwah.

Peninggalan Sejarah Sunan Pojok Di Blora

Sebagai sesepuh pendiri cikal bakal Kota Blora, selain meninggalkan bukti sejarah yaitu masjid Baitun Nur, sunan Pojok juga memiliki banyak karomah baik yang sifatnya umum maupun khusus. Beberapa karomah ini diantaranya sebagai berikut:

- Sunan Pojok selalu menjalankan pemerintahannya dengan berpedoman kepada Alquran dan Hadis Rasullullah. Beliau mengajarkan ilmu ulama untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat sebagai petunjuk kebenaran untuk meninggalkan kebathilan.

- Ketika sunan Pojok sedang beristirahat di bawah pohon nangka dan daerah itu belum mempunyai nama maka beliau memberi nama daerah tersebut desa karangnangka. Kemudian karena daerah tersebut masih berupa hutan sehingga para prajuritnya nasak-nasak maka diberinya nama desa sasak. Selanjutnya beliau beserta robongan menyeberangi sungai maka daerah tersebut diberinya nama kaliwangan.

Demikian kiprah Sunan Pojok dalam membela tanah air dan menyebarkan agama Islam khususnya di wilayah Blora. Bagi pecinta wisata religi yang belum pernah singgah di Blora, dan berkeinginan mengunjungi Blora, sempatkan ziarah ke Makam Sunan Pojok Makam yang letaknya tak jauh dari alun- alun kota Blora.

Makam Sunan Pojok


Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora dekat dengan Alun-Alun Kota Blora, tepatnya berada disebelah Utara Pasar Kota Blora, sangat strategis dan mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Menurut data inventaris Kepurbakalaan dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora serta hasil dari pendapat sebagian tokoh masyarakat mengenai data-data makam para tokoh Pemerintahan dan Keagamaan pada waktu dulu, merupakan awal mula pemerintahan di Kabupaten Blora. Barangkali dari sini dapat digambarkan asal mula Kabupaten Blora.

Makam Sunan Pojok adalah Makam Pangeran Surobahu Abdul Rohim. Sebelumnya beliau adalah seorang perwira di Mataram yang telah berhasil memadamkan kerusuhan di daerah pesisir utara atau tepatnya didaerah Tuban, sekembalinya dari Tuban diperjalanan beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Desa Pojok Blora,

Menurut seorang ahli makam, Mbah Sobib dari desa Bugel Menganti, Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Pangeran Surobahu Abdul Rohim juga punya nama kecil yaitu Benun ( Mbah Benun ). Karena jasa-jasa Sunan Pojok, maka putranya yang bernama Jaya Dipa diangkat sebagai Bupati Blora yang pertama ( Dinasti Surobahu Abdul Rohim ), setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Jaya Wirya, Kemudian oleh Jaya Kusumo. Keduanya, setelah wafat dimakamkan dilokasi Makam Pangeran Pojok. Kauman.

Makam Sunan Pojok sering dikunjungi/ diziarahi oleh banyak masyarakat terutama pada malam jumat . Kegiatan haul biasanya tanggal 27 Suro ( Tahun Jawa ), serta pada saat Hari jadi Kab. Blora , dan dilaksanakan tanggal 10 Desember.

Wisata Religi Yang Perlu Kamu Tahu Di Blora

ziarah makam sunan pojok

Pada umumnya, di setiap daerah pasti memiliki destinasi wisata yang sangat mudah untuk ditemukan. Entah itu wisata buatan, alam, bahkan religi semuanya menyimpan cerita dan ciri khas masing-masing.

Di Kabupaten Blora sendiri juga terdapat destinasi wisata religi yang dapat Anda kunjungi. Dengan mengunjungi wisata religi, pengunjung diajak untuk masayarakat tempo dulu yang kiprahnya masih dirasakan hingga sekarang.

Selain itu, mengunjungi tempat wisata juga mempelajari sejarah maupun asal dari budaya daerah. Meskipun ada sebagian yang lebih menjadikan wisata religi sebagai tempat untuk mendapatkan keberkahan.

Lalu apa sajakah infomasi tempat wisata religi yang perlu kamu tahu di Blora?, berikut daftar destinasi yang biasa dikunjungi, antara lain:

1. Makam Sunan Pojok

Letak Makam Sunan Pojok berada di pusat Kabupaten, yakni sebelah alun-alun Blora. Di sanalah tempat peristirahatan terakhir Surobahu Abdul Rohim atau yang disebut sebagai Pangeran Suro. Dialah seorang perwira kerajaan Mataram yang berhasil meredam kerusuhan di pesisir pantai utara (Tuba) dan pendiri Blora.

Tempat makamnya tenang dan tersedia fasilitas yang lengkap. Pasca pemugaran, makam Sunan Pojok ini semakin ramai dikunjungi dan tidak terkesan menyeramkan. Bahkan warga seringkali mengadakan haul untuk sang tokoh.

2. Makam Syekh Abdul Qohar

Sosok yang dianggap sebagai Waliyullah ini disebut masih merupakan keturunan dari Sultan Demak Raden Fatah dan Menantu dari Ki Ageng Selo. Ia dimakamkan di Desa Ngampel, Blora.

Banyak yang menyebut Syekh Abdul Qohar ini suka mengembara dan perjalananya berakhir di Ngampel Blora. Sedangkan suasana ketika berziarah ke sana sangat adem meski berada di kawasan tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngampel Blora. Dan tentunya memberikan suasana tenang.

3. Makam Jati Kusumo dan Jatisuwara

Di makam Eyang Jati Kusumo dan Jatisuwara inilah Anda dapat melakukan ziarah sekaligus mengenal budaya di sana. Terlebih di sana terlihat pemandangan alam cantik dari bukit pasujudan dan hutan jati.

Makamnya terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora dan bisa dijangkau dengan motor maupun mobil. Kedua tokoh yang amat dihormati masyarakat Blora ini disebut-sebut merupakan putra dari Sultan Pajang.

4. Petilasan Kadipaten Jipang

Cagar budaya ini sangat berharga bagi masyarakat Blora. Sebab di sanalah bekas petilasan dari Arya Penangsang. Sehingga pengunjung yang mengunjungi Petilasan Kadipaten Jipang akan lekat dengan Kerajaan Pajang yang saat itu dipimpin oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet bergelar Sultan Hadiwijaya.

Adapun alamat Petilasan Kadipaten Jipang ini berada di Jipang, Kecamatan Cepu, Blora.

5. Makam Poucut Meurah Intan

Dialah Srikandi Aceh yang gugur di Kabupaten Blora. Pocut Meurah Intan ditangkap oleh pasukan Blora pada 1902 dan ke Blora pada 1905. Ia pun wafat pada 1937 dan dimakamkan di Desa Temurejo, Kecamatan Blora.

Selama hidup di Blora, ia tinggal di salah satu keluarga Desa Kauman yang saat ini berada di sebelah utara Masjid Agung Baitunnur. Ia pun dirawat di sana hingga menghembuskan napas terakhirnya.

6. Komplek Makam Bupati Blora

Letaknya berada di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora. Di kompleks inilah disemayamkan 10 bupati tempo dulu diantaranya R.T. Djajeng Tirtonoto (1762-1782), R.T Turto Koesoemo (1782-1812), R.T Prawiro Joedho (182-1823), R. Tirto Nagoro (1823-1842), R.T Aryo Tjokronegoor I (1842), R.A Tirtonagoro IB (1743-1847), R. T Pandji Noto Nagoro (1847-1857), R.T Tjokronagoro II (1873-1886), R.M.T.A Tjokroanoro III (1886-192), dan R.M Said Abdul Kadir Jaelani (1912-1926).

Adapun letaknya berada di Ngadipurwo, kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

7. Masjid Agung Baitunnur

Arsitektur dari masjid Agung Baitunnur Blora hampir mirip dengan yang ada di Masjid Agung Demak, yakni dengan ciri khas atap susun tiga. Sedangkan di masjid ini pada puncak atapnya terdapat mustoko yang terbuat dari logam.

Masjid ini pertama kali diririkan pada 1774 saat masa pemerintahan Bupati R.T Djajeng Tirtonoto. Dan dipugar pada tahun 1968 dan 1975 pada kekuasaan Bupati Supadi Yudhodarmo dengan penambahan menara. Sedangkan mimbarnya yang bertuliskan khot Arab dan Jawa.

Sedangkan posisinya yang berada di tengah kota dekat alun-alun seringkali ramai untuk dijadikan tempat ibadah. Bahkan tidak jauh dari masjid Agung Baitunnur terdapat makam Sunan Pojok.

Demikian informasi tempat wisata religi yang perlu kamu tahu di Blora karena menyimpan banyak sejarah dan cerita penggugah jiwa. Jangan lupa selama untuk menjaga sikap dan tata krama selama berjkunjung. ( sumber : Harianmuria.com)

Waduk Tempuran

Waduk Tempuran, merupakan objek wisata alam yang berupa bendungan yang tercipta dari tiga sumber mata air dan sungai yang terletak di desa Tempuran Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jateng.

Keberadaannya menambah daya tarik wisatawan ke Blora sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil minyak bumi, kayu jati, tempat kuliner sate dan lontong Ngloram, budaya seni tayuban dan barongan serta memiliki banyak obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata alam,sejarah, budaya dan releji yang layak untuk dinikmati bersama keluarga.

Jarak menuju lokasi wisata waduk Tempuran dari pusat kota atau Alun-alun kota Blora sekitar 11 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Wisata alam waduk Tempuran buka setiap hari mulai dari jam 8.00-18.00 WIB.

Waduk Tempuran pertama kali dibangun pada tahun 1912-1916 dengan spesifikasi antara lain:Volume:2.092.000 m3,luas catchment:4,3 Km2,luas layanan:923 ha dan elevasi:120,60 m.

Saat ini Waduk Tempuran selain sebagai tempat wisata yang cocok bagi keluarga, juga memiliki peran sebagai penampungan air untuk warga dan PDAM, untuk kepentingan pengairan air Pertanian, budidaya ikan darat dan menyediakan air untuk ternak sapi serta mencegah banjir.

Waduk Tempuran juga sebagai tempat untuk latihan atlet dayung dan destinasi wisata kuliner serta wisata Agribisnis. Bahkan di sekitar waduk Tempuran telah menawarkan beragam konsep wisata mulia wisata petik buah jambu dan wisata budaya.

Sementara ditepinya waduk Tempuran telah tergelar berbagai cafe dan resto yang dilengkapi fasilitas wisata kolam renang, wahana selancar air dan berbagai kuliner dengan menu makan dan harga yang merakyat, tempat penginapan, gazebo serta berbagai macam spot foto instagenic.

Tidak kalah menarik hadirnya panorama alam yang mendamaikan hati dan sensasi memancing di waduk tempuran serta merasakan nikmatnya bersama keluarga berkeliling waduk Tempuran tempuran dengan memakai perahu dengan biaya murah.

Berkenaan dengan keindahan dan keistimewaan yang disajikan oleh distinasi wisata Waduk Tempuran ternyata telah mampu memberi daya tarik bagi para wisatawan yang berasal baik dari Kabupaten Blora maupun di luar Kabupaten Blora.

Terutama pada saat hari libur sekolah dan hari minggu banyak wisatawan bersama keluarga yang datang untuk menghibur dan menikmati wisata kuliner ke Waduk Tempuran.

Popular Posts

Labels

close