Blora Online

Untuk Anda Kami Ada

Goa Kidang


Goa Kidang di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, adalah situs arkeologi penting dan wisata sejarah yang populer. Goa ini terkenal dengan temuan kerangka "Manusia Karst" berusia 7.700 - 9.600 tahun dari Zaman Holosen. Situs ini berdekatan (sekitar 2,8 km) dengan Goa Terawang, menjadikannya destinasi edukasi yang mudah diakses.

Beberapa hal penting mengenai Goa Kidang Di Blora:

Situs Arkeologi dan Sejarah

Goa Kidang pernah menjadi tempat hunian manusia prasejarah. Peneliti menemukan kerangka manusia (Manusia Karst), artefak, cangkang moluska, tulang hewan, dan perkakas batu.

Lokasi Dan Akses Jalan

Terletak di Desa Tinapan, Todanan, Blora, dan mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun empat. Lokasinya berdekatan dengan Wana Wisata Goa Terawang.

Daya Tarik

Selain nilai sejarah yang kental, goa ini menawarkan pengalaman wisata edukasi mengenai kehidupan manusia masa lampau, didukung lingkungan hutan jati yang asri.

Fasilitas

Sebagai cagar budaya yang dikelola oleh Pemkab Blora, tempat ini terus dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah.

Tips Wisata

Karena dekat dengan Goa Terawang, pengunjung sering kali merencanakan kunjungan ke kedua tempat tersebut dalam satu waktu untuk memaksimalkan pengalaman, terutama karena Goa Terawang juga menawarkan keindahan stalaktit dan stalagmit.

Goa Kidang Di Desa Tinapan, merupakan destinasi tepat bagi pecinta sejarah dan arkeologi yang ingin menjelajahi jejak kehidupan purba di Jawa Tengah.

Bukit Kunci

Bukit Kunci - Bangowan

Bukit Kunci yang dikelola BUMDes dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bangowan Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora tampil dengan wajah baru dengan dibangunnya fasilitas glamping di lokasi.

Glamping kayu berbentuk seperti kerucut itu disediakan bagi pengunjung yang ingin bermalam di lokasi wisata alam Bukit Kunci, menikmati suasana malam, melihat bintang dan bulan. Dibandrol harga Rp80.000,00 per malam, akan mendapatkan fasilitas pendukung seperti aula, musala, wi-fi, warung makan dan minuman serta toilet.

Bagi warga yang ingin menikmati suasana malam jauh dari kebisingan dan keramaian, Bukit Kunci menjadi salah satu alternatif untuk merelaksasi. Glamping, merupakan aktivitas berkemah dengan gaya yang lebih mewah dan nyaman daripada kegiatan berkemah di tenda.

Meskipun ada tanaman yang kering dan layu di musim kemarau, namun sebanyak 19 pohon cemara yang ditanam di kawasan wisata alam Bukit Kunci tampak subur dan rindang.

Beberapa hal terus berbenahi, sudah mulai mengembangkan digitalisasi dengan transaksi pembelian produk lewat Qris dan kerja sama dengan platform digital Atourin untuk promosi paket wisata.

Bukit Kunci merupakan salah satu bagian dari paket wisata desa Bangowan yang menampilkan panorama alam.

Wono Aji

Flying Fox Di Wono Aji

Wono Aji Kedungtuban memiliki daya tarik yang beragam, mulai dari flying fox, swafoto eksotik, arena trabas ke puncak Gunung Purwosuci hingga edukasi sumur minyak peninggalan Kolonial Belanda. Wisata tersebut tergolong baru di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Daerah ini berada di kawasan hutan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Cepu. Tepatnya di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban.

Wono Aji Kedungtuban dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ngraho, bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. Pesona alam dan edukasi sumur minyak tua di kawasan hutan Kedinding menjadi daya tarik tersendiri. Pihak pengelola juga menyediakan tempat swafoto, flaying Fox, arena trabas, serta rute Jeep menyusuri pegunungan kedinding.

Di kawasan pegunungan kedinding terdapat puluhan titik sumur tua yang pernah beroperasi. Namun, sejak beberapa tahun belakangan ini sumur-sumur tersebut tidak lagi beroperasi. Kepala Desa akan mencoba mendapatkan izin pengelolaan untuk keperluan wisata. Alasannya lokasi Wono Aji Kedungtuban mudah dijangkau, berada di tepi Jalan Cepu-Randublatung.

Diharapkan wisata tersebut bukan hanya menjadi ikon Desa Ngraho, melainkan ikon Kecamatan Kedungtuban, dan Blora pada umumnya. Disamping wisata edukasi sumur minyak tua, Wono Aji Kedungtuban juga menawarkan sejumlah edukasi lain bagi pengunjung. Diantaranya pembuatan garam tradisional, pembuatan sepatu/sandal, dan pembuatan angklo atau pawon di Dukuh Ningalan Desa Ngraho.

Selain itu, ada juga air terjun dua bidadari di tengah hutan serta trip ke puncak Purwosuci dan Gunung Kedinding dengan menggunakan mobil jeep. Fasilitas dan keindahan itu akan segera dikembangkan agar trip wisata tersebut bisa menembus Desa Kalen melalui kerjasama dengan BUMDes antar desa.

Wono Aji berada di lahan Perhutani seluas dua hektar, keberadaan wisata ini diharapkan dapat menumbuhkan usaha baru yang dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi warga sekitar. Apabila gagasan ini terlaksana maka warga tidak lagi menebang pohon, tapi justru ikut menjaga dan melestarikan demi berkembanganya wisata di daerah tersebut.

Kampung Samin

Kampung Samin - Sedulur Sikep


Desa Sambongrejo di Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, dimana kampung literasi sedulur Sikep atau lebih dikenal sebagai kampung Samin itu berada. Disini anda akan diajak untuk mengenal, berdialog, berinteraksi, dengan warga Samin, belajar dari sifat kejujuran dan Kesederhanaan dari masyarakat samin.

Selain itu juga akan disuguhi disuguhi kesenian Warga Samin berupa Gejog Lesung dan Drumblek, Kuliner asli Warga Samin, dan masih banyak potensi wisata lainnya, seperti belajar membatik, menikmati keindahan persawahan, kunjungan ke tempat bersejarah lainnya.

Desa Wisata Sambongrejo dikenal akan kearifan lokal sedulur sikep Samin. Anda akan belajar banyak tentang pitutur atau nasihat bijak dari para sesepuh Sedulur Sikep. Sambil lesehan menikmati kudapan tradisional khas desa seperti gethuk, ketela rebus, kacang rebus, wisatawan bisa menyimak cerita sejarah ajaran hidup serta tradisi Sedulur Sikep di Pendapa Agung Kampung Samin.

Sebelum memasuki Kampung Samin, pengunjung diajari memakai iket samin atau ikat kepala (udeng) dan disambut dengan atraksi kesenian tradisional, seperti drumblek dan Klothek Lesung yaitu musik dari alat penumbuk padi.

Anda juga dapat menikmati minuman khas Wedang Cangkruk sebagai welcome drink di Desa Sambongrejo, yang merupakan desa wisata terbaik di Blora. Minuman tradisional merupakan olahan dari jahe, sereh, secang yang menciptakan efek warna alami.

Selain itu ada Krowotan, istilah untuk camilan selamat datang yang berupa aneka penganan tradisional seperti kacang rebus, tape, lemper, nagasari dll. Wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh seperti peyek kacang, rengginang atau krecek, dan madu mongso ketan.

Goa Sentono

Goa Sentono

Goa Sentono merupakan tempat wisata alam yang dipadu dengan kisah sejarah tersendiri, dan menjadi salah satu cagar budaya yang wajib untuk dikunjungi ketika berada di Kabupaten Blora.

Keunikan dan keindahan Goa Sentono mempunyai nilai dan daya tarik tersendiri, dimana batuan alami yang indah berpadu dengan hijaunya area pesawahan menciptakan pemandangan yang sangat unik.

Lokasinya lebih dekat jika ditempuh dari Kecamatan Cepu atau Randublatung. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi goa ini. Namun jangan heran sepanjang perjalanan akan banyak melihat landscape pemandangan sawah, hutan dan pegunungan.

Akses ke lokasi goa ini bisa ditempuh dengan motor. Sesampainya di lokasi Dukuh Sentono Desa Mendenrejo ada semacam gubuk kecil untuk berteduh. Dari gubuk tersebut ke Goa Sentono harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter. Goa sentono persis ada di pinggiran Sungai Bengawan Solo.

Goa Sentono berada di pegunungan kapur. Bibir goa tidak jauh dari tebing Sungai Bengawan Solo. Lebar goa sekitar 3 meter dengan ketinggian sekitar 2,5 meter dan kedalaman hingga sekitar 10 meter. Jika dilihat ke dalam bentuknya semakin mengerucut. Sehingga semakin ke dalam pengunjung harus membungkuk. Bagian dalam goa terlihat gelap karena minimnya penerangan.

Sebelum memasuki kawasan goa, pengunjung merasa seperti berada di lembah. Sepanjang mata memandang terdapat hamparan Sungai Bengawan Solo dari ketinggian tertentu. Hawa sejuk menyapa dikala angin berhembus. Tentu pemandangan alam disebelah sungai terpanjang di Pulau Jawa ini menjadi suatu suguhan wisata yang mengguratkan keindahan.

Dari lembah tersebut berjalan menurun di bebatuan 200 meter pengunjung harus berhati-hati karena jalan bebatuan cukup curam. Dari atas hanya tampak batu besar. Namun setelah sampai di bawah barulah kelihatan Goa Sentono.

Perpaduan pegunungan, goa dan sungai ini justru menjadi daya tarik para penghobi fotografi. Sering para fotografer datang ke Goa Sentono. Cukup banyak angle saat memotret di lokasi ini. Kebanyakan yang kesini para remaja.

Goa Sentono juga sarat nilai sejarah. Banyak versi yang menjelaskan bahwa goa ini ada kaitannya dengan sejarah Desa Mendenrejo, namun dengan versi yang berbeda-beda dari cerita rakyat setempat. Ada yang mengatakan berkaitan dengan cerita Blacak Ngilo dan Sunan Bonang.

Blacak Ngilo adalah seorang prajurit Majapahit yang melarikan diri saat perang saudara memperebutkan kekuasaan Majapahit. Ada pula yang mengatakan bahwa goa ini dulu pernh dijadikan tempat semedi Sunan Bonang untuk bertapa di tepi Sungai Bengawan Solo.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Goa Sentono, penting untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membawa bekal yang cukup, serta berhati-hati selama perjalanan. Goa Sentono bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga situs budaya yang penuh dengan sejarah dan cerita mistis yang patut dilestarikan.Paket liburan terbaik

Goa Sentono adalah pilihan tepat bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam dengan nilai-nilai sejarah. Pesona alam dan keunikan sejarahnya membuat Goa Sentono menjadi salah satu destinasi yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Blora.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan

Komplek Makam Gedong Ageng Jipang

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, (berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu) berupa makam Gedong Ageng. Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil.

Pada jamannya tempat ini merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang. Di tempat ini ada makam kerabat Kadipaten Jipang, diantaranya makam R. Bagus Sosrokusumo, R. Bagus Sumantri, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Peninggalan lainnya adalah Makam Santri Songo, yang berada di sebelah Utara Makam Gedong Ageng, berupa makam sembilan santri yang diduga mata-mata Pajang yang ditangkap dan dibunuh oleh prajurit Jipang.

Selain itu ada juga Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid Jipang Panolan, Petilasan Semayam Kaputren, dan Petilasan Siti Hinggil.

Menurut juru kunci Makam Gedong Ageng, Salekun (50), setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke makam. Tidak saja dari daerah di sekitarnya, tapi juga dari luar daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini, banyak pula yang datang dengan hajat tertentu.

Setiap pengunjung Petilasan Kadipaten Jipang Panolan ini harus menjaga sopan santun, terutama saat masuk ke lingkup makam. Menurut juru kunci Salekun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan itu antara lain dilarang membawa benda-benda yang ada di lingkungan makam, bahkan secuil tanah pun.

Pengunjung juga diminta untuk uluk salam terlebih dahulu saat akan masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada dalam kompleks makam.

“Kalau pantangan-pantaangan ini dilanggar biasanya ada kejadian yang tidak baik menimpa orang tersebut”, ujarnya.

Warga Jipang juga memiliki tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini disebut dengan manganan dan biasanya dilakukan di makam Gedong Ageng. Setidaknya ada tiga acara manganan, yakni saat turun hujan pertama kali, saat tanam padi, dan saat panen. Acara ini biasanya disertai dengan pertunjukan seni tradisi, seperti ketoprak, wayang krucil, wayang kulit, atau seni tradisi yang lain.

Kampung Durian Nglawungan

Kampung Durian Nglawungan


Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah kini semakin indah dan menarik. Letaknya tidak jauh dari kota Blora, hanya sekitar 11 Km dengan akses jalannya sudah cukup bagus untuk dilalui kendaraan roda empat, maupun roda dua.

Menariknya di kampung durian nglawungan sekarang sudah dibangun joging track, sehingga pengunjung bisa berolahraga, bisa memetik sendiri buah durian dan makan ditempat. Rasanya pun legit dan bikin ketagihan, jenis duriannya ada Montong, Tampar, dan lokal.

Pengunjung di kampung durian nglawungan tidak hanya dari warga lokal Blora saja, namun datang dari luar kota, seperti Semarang, Rembang dan Kabupaten terdekat yang lainnya.

Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini tergolong legendaris. Ini lantaran sebelum menjadi destinasi wisata kampung durian tahun 2017 oleh Pemerintah Desa di Blora. Penduduk setempat sudah menanami lahannya dengan pohon durian. Dan para penduduk ini mewarisinya dari para leluhurnya terdahulu.

Konon katanya setiap tahun sekali saat musim panen. Para penduduk mengadakan sedekah terlebih dahulu berupa nasi ingkung atau nasi tumpeng dengan ayam bakar utuh. Dengan harapan agar hasil panennya melimpah.

Untuk melestarikan budaya kearifan lokal itu, Kepala Desa setempat tetap melaksanakan sedekah tersebut hingga sekarang. Sedekah itu bernama sedekah Durian.

Popular Posts

Labels

close