Blora Online

Untuk Anda Kami Ada

Sunan Pojok


Sunan Pojok bernama asli Pangeran Surobahu Abdul Rohim dan ayahnya bernama Kyai Ashari seorang sunan pejagong Tuban. Selain sebagai panglima perang kerajaan Mataram beliau juga berjasa besar dalam penyebaran agam islam. Selama hidup beliau setia mengabdikan diri pada pemerintahan kerajaan Mataram.

Selain sebagi seorang panglima perang yang berasal dari Mataram atau Yogyakarta beliau juga adalah seorang Adipati Tuban. Beliau juga sangat dikenal dalam menyebarkan agama Islam khususnya di Wilayah Blora. Jejak sejarahnya dapat dilihat dari peninggalannya yaitu masjid agung baitunnur Blora.

Sunan Pojok dikenal dengan beberapa nama panggilan yaitu Mbah Benun, pangeran Sedah, Syeh Abdurrohim dan Pangeran Surobahu. Semasa kecil bernama pangeran Surobahu. Mempunyai silsilah mbah Benun wali pojok bin Pangeran Ronggo Sedayu, bin panembahan marengat bin Pangeran Singabarong.

Pangeran Pojok merupakan putra dari pangeran Ronggo Sedayu. Sedangkan pangeran Ronggo Sedayu ini adalah putra dari panembahan marengat, beliau ini putra dari pangeran Singabarong. Sedangkan pangeran Singabarong ini merupakan menantu dari sunan Kudus. Beliau dikenal juga dengan pangeran Djafar Sodiq. Pangeran Djafar sodiq sendiru adalah putra sunan Ngudung atau raden Usman Haji.

Sunan Ngudung merupakan putra dari ratu Fatimah dan Kholifah Husein. Ratu Fatimah sendiri adalah putrinya sunan Ampel. Sedangkan Kholifah Husein ini adalah putra dari Raden Aryo Bariben. Beliau ini adalah seorang menantu cucu yang ke 13 dari Raden Brawijaya seorang Raja Majapahit. Dengan demikian silsilah sejarah sunan pojok mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Majapahit.

Beliau adalah salah seorang yang sangat berjasa dalam mengusir penjajahan Belanda. Terutama yang berada di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Sebagai seorang panglima perang beliau juga telah membuktikan kiprahnya atas sebuah kemenangan atas VOC pada 20 November 1626 kepada Sultan Agung Hayokrokusumo.

Kemenangan ini membuktikan bahwa perlawanan yang dilakukan sunan Pojok dalam melawan VOC di Batavia tidaklah sia-sia. Karena perjuangan yang dilakukannya merupakan satu-satunya kemenangan dalam peperangan melawan VOC.

Atas prestasi kemenangan beliau dalam berperang melawan VOC kemudian sunan Pojok diangkat menjadi seorang Adipati Tuban yang terkenal welas asih. Sebagai Adipati Tuban beliau diberi gelar Pangeran seda pada tahun 1619 Masehi. Beliau memerintah Kadipaten Tuban ini selama 32 tahun.

Selama memangku jabatan sebagai Adipati Tuban sunan Pojok banyak melakukan penumpasan atas kerusuhan yang terjadi di wilayah Tuban. Beliau dibantu oleh 500 prajurit kerajaan Mataram akhirnya mampu menumpas kerusuhan akibat adanya pemberontakan.

Kerusuhan tersebut banyak terjadi akibat beberapa Adipati yang membelot dan memberontak diantaranya Adipati Lasem, Sumenep, Pasuruan dan yang lainnya. Selain itu Karena Tuban juga merupakan salah satu wilayah jajahan VOC yang selalu berusaha memperluas daerah jajahannya. Kadipaten Tuban saat itu belum menjadi bagian dari jajahan VOC.

Selain berhasil menumpas kerusuhan di sekitar wilayah Tuban, sunan pojok juga mempunyai banyak prestasi gemilang. Diantaranya menaklukkan daerah daerah yang menjadi penjajahan VOC. Seperti daerah Pati, Surabaya, Pasuruan dan masih banyak daerah lainnya yang ditaklukkan. Semua daerah tersebut menjadi saksi perjalanan sejarah sunan pojok dalam melawan penjajah.

Setelah 32 tahun memerintah sebagai Adipati Tuban beliau menyerahkan kembali jabatannya kepada Sultan Mataram Amangkurat satu atau sunan Tegal Arum. Kemudian jabatan Adipati Tuban tersebut oleh sunan Tegal Arum diserahkan kepada adik sunan Pojok yaitu pangeran Anom.

Sunan pojok sendiri kemudian menetap di Blora. Hingga kemudian di kadipaten Blora inilah sunan Pojok dikaruniai tiga orang putra yaitu pangeran Kleco, pangeran Sumodipo dan Pangeran Dipoyuda. Dari ketiga putra sunan pojok ini salah satunya kelak menjadi Adipati Blora.

Peran beliau sangat besar dalam memajukan Blora hingga menjadi sebuah kadipaten. Hingga saat ini beliau dikenal dalam sejarah sunan pojok sebagai seseorang yang mempunyai peranan penting dengan lahirnya kadipaten Blora. Sekarang kadipaten Blora ini telah menjadi kabupaten Blora.

Melihat perkembangan Blora yang yang berkembang pesat telah menjadi perhatian sultan Mataram Amangkurat I. Atas inisiatif Sultan Mataram tersebut, Blora kemudian dijadikan sebagai kadipaten tersendiri yang terpisah dari kadipaten Tuban. Kadipaten baru ini kemudian dipimpin oleh putra sunan Pojok yang bernama Adipati Raden Mas Joyodipo.

Sebagai Adipati Blora beliau diberi gelar Raden Tumenggung Joyo Wiryo atau dikenal juga dengan Tumenggung Jatiwiryo. Selanjutnya Adipati Joyodipo ini digantikan oleh menantu beliau yang bernama Raden Tumenggung Joyokusumo sebagai Adipati Blora yang kedua.

Setelah berhasil menumpas semua kerusuhan sunan Pojok kembali ke Mataram untuk melaporkan keberhasilannya kepada sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah kepulangannya dari mataram beliau merasa sangat kelelahan yang mengakibatkan beliau jatuh sakit. Beliau dirawat oleh anaknya yang yang mempunyai sifat sama seperti beliau untuk selalu patuh dan taat terhadap perintah sultan Agung.

Setelah beberapa lamanya sunan pojok jatuh sakit akhirnya beliau meninggal dunia. Kemudian beliau dimakamkan di desa pojok, kecamatan banjarejo Kabupaten Blora. Makam sunan Pojok letaknya sangat strategis berada di dekat alun-alun tepatnya berada di jantung Kota Blora. Demikian juga makam anak dan menantunya yang pernah menjadi Adipati Blora, keduanya dimakamkan dekat dengan sunan Pojok.

Selain kedua makam anak dan menantunya, di situ juga jasad prajurit perang sunan Pojok yang setia dimakamkan. Kawasan pemakaman sunan Pojok sangat asri. Sebagian masyarakat baik dari dalam maupun luar kota tidak pernah berhenti untuk datang dan menziarahi makam beliau di Kota Blora. Selain itu mengunjungi masjid sebagai peninggalan sejarah sunan pojok.

Apalagi kalau hari Jumat makan selalu ramai dikunjungi. Demikian juga setiap tanggal 27 Suro yang merupakan tanggal kelahiran beliau. Biasanya diadakan haul sebagai bentuk penghormatan atas semua jasanya dalam penyebaran agama Islam khususnya di Kota blora.

Semasa hidupnya dalam menyebarkan Agama Islam, sunan Pojok dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang sangat welas asih dalam berdakwah. Meski berbagai jabatan telah disandangnya mulai sebagi Adipati hingga menjadi panglima perang namun beliau lebih memilih berdakwah.

Peninggalan Sejarah Sunan Pojok Di Blora

Sebagai sesepuh pendiri cikal bakal Kota Blora, selain meninggalkan bukti sejarah yaitu masjid Baitun Nur, sunan Pojok juga memiliki banyak karomah baik yang sifatnya umum maupun khusus. Beberapa karomah ini diantaranya sebagai berikut:

- Sunan Pojok selalu menjalankan pemerintahannya dengan berpedoman kepada Alquran dan Hadis Rasullullah. Beliau mengajarkan ilmu ulama untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat sebagai petunjuk kebenaran untuk meninggalkan kebathilan.

- Ketika sunan Pojok sedang beristirahat di bawah pohon nangka dan daerah itu belum mempunyai nama maka beliau memberi nama daerah tersebut desa karangnangka. Kemudian karena daerah tersebut masih berupa hutan sehingga para prajuritnya nasak-nasak maka diberinya nama desa sasak. Selanjutnya beliau beserta robongan menyeberangi sungai maka daerah tersebut diberinya nama kaliwangan.

Demikian kiprah Sunan Pojok dalam membela tanah air dan menyebarkan agama Islam khususnya di wilayah Blora. Bagi pecinta wisata religi yang belum pernah singgah di Blora, dan berkeinginan mengunjungi Blora, sempatkan ziarah ke Makam Sunan Pojok Makam yang letaknya tak jauh dari alun- alun kota Blora.

Makam Sunan Pojok


Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora dekat dengan Alun-Alun Kota Blora, tepatnya berada disebelah Utara Pasar Kota Blora, sangat strategis dan mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Menurut data inventaris Kepurbakalaan dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora serta hasil dari pendapat sebagian tokoh masyarakat mengenai data-data makam para tokoh Pemerintahan dan Keagamaan pada waktu dulu, merupakan awal mula pemerintahan di Kabupaten Blora. Barangkali dari sini dapat digambarkan asal mula Kabupaten Blora.

Makam Sunan Pojok adalah Makam Pangeran Surobahu Abdul Rohim. Sebelumnya beliau adalah seorang perwira di Mataram yang telah berhasil memadamkan kerusuhan di daerah pesisir utara atau tepatnya didaerah Tuban, sekembalinya dari Tuban diperjalanan beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Desa Pojok Blora,

Menurut seorang ahli makam, Mbah Sobib dari desa Bugel Menganti, Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Pangeran Surobahu Abdul Rohim juga punya nama kecil yaitu Benun ( Mbah Benun ). Karena jasa-jasa Sunan Pojok, maka putranya yang bernama Jaya Dipa diangkat sebagai Bupati Blora yang pertama ( Dinasti Surobahu Abdul Rohim ), setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Jaya Wirya, Kemudian oleh Jaya Kusumo. Keduanya, setelah wafat dimakamkan dilokasi Makam Pangeran Pojok. Kauman.

Makam Sunan Pojok sering dikunjungi/ diziarahi oleh banyak masyarakat terutama pada malam jumat . Kegiatan haul biasanya tanggal 27 Suro ( Tahun Jawa ), serta pada saat Hari jadi Kab. Blora , dan dilaksanakan tanggal 10 Desember.

Wisata Religi Yang Perlu Kamu Tahu Di Blora

ziarah makam sunan pojok

Pada umumnya, di setiap daerah pasti memiliki destinasi wisata yang sangat mudah untuk ditemukan. Entah itu wisata buatan, alam, bahkan religi semuanya menyimpan cerita dan ciri khas masing-masing.

Di Kabupaten Blora sendiri juga terdapat destinasi wisata religi yang dapat Anda kunjungi. Dengan mengunjungi wisata religi, pengunjung diajak untuk masayarakat tempo dulu yang kiprahnya masih dirasakan hingga sekarang.

Selain itu, mengunjungi tempat wisata juga mempelajari sejarah maupun asal dari budaya daerah. Meskipun ada sebagian yang lebih menjadikan wisata religi sebagai tempat untuk mendapatkan keberkahan.

Lalu apa sajakah infomasi tempat wisata religi yang perlu kamu tahu di Blora?, berikut daftar destinasi yang biasa dikunjungi, antara lain:

1. Makam Sunan Pojok

Letak Makam Sunan Pojok berada di pusat Kabupaten, yakni sebelah alun-alun Blora. Di sanalah tempat peristirahatan terakhir Surobahu Abdul Rohim atau yang disebut sebagai Pangeran Suro. Dialah seorang perwira kerajaan Mataram yang berhasil meredam kerusuhan di pesisir pantai utara (Tuba) dan pendiri Blora.

Tempat makamnya tenang dan tersedia fasilitas yang lengkap. Pasca pemugaran, makam Sunan Pojok ini semakin ramai dikunjungi dan tidak terkesan menyeramkan. Bahkan warga seringkali mengadakan haul untuk sang tokoh.

2. Makam Syekh Abdul Qohar

Sosok yang dianggap sebagai Waliyullah ini disebut masih merupakan keturunan dari Sultan Demak Raden Fatah dan Menantu dari Ki Ageng Selo. Ia dimakamkan di Desa Ngampel, Blora.

Banyak yang menyebut Syekh Abdul Qohar ini suka mengembara dan perjalananya berakhir di Ngampel Blora. Sedangkan suasana ketika berziarah ke sana sangat adem meski berada di kawasan tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngampel Blora. Dan tentunya memberikan suasana tenang.

3. Makam Jati Kusumo dan Jatisuwara

Di makam Eyang Jati Kusumo dan Jatisuwara inilah Anda dapat melakukan ziarah sekaligus mengenal budaya di sana. Terlebih di sana terlihat pemandangan alam cantik dari bukit pasujudan dan hutan jati.

Makamnya terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora dan bisa dijangkau dengan motor maupun mobil. Kedua tokoh yang amat dihormati masyarakat Blora ini disebut-sebut merupakan putra dari Sultan Pajang.

4. Petilasan Kadipaten Jipang

Cagar budaya ini sangat berharga bagi masyarakat Blora. Sebab di sanalah bekas petilasan dari Arya Penangsang. Sehingga pengunjung yang mengunjungi Petilasan Kadipaten Jipang akan lekat dengan Kerajaan Pajang yang saat itu dipimpin oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet bergelar Sultan Hadiwijaya.

Adapun alamat Petilasan Kadipaten Jipang ini berada di Jipang, Kecamatan Cepu, Blora.

5. Makam Poucut Meurah Intan

Dialah Srikandi Aceh yang gugur di Kabupaten Blora. Pocut Meurah Intan ditangkap oleh pasukan Blora pada 1902 dan ke Blora pada 1905. Ia pun wafat pada 1937 dan dimakamkan di Desa Temurejo, Kecamatan Blora.

Selama hidup di Blora, ia tinggal di salah satu keluarga Desa Kauman yang saat ini berada di sebelah utara Masjid Agung Baitunnur. Ia pun dirawat di sana hingga menghembuskan napas terakhirnya.

6. Komplek Makam Bupati Blora

Letaknya berada di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora. Di kompleks inilah disemayamkan 10 bupati tempo dulu diantaranya R.T. Djajeng Tirtonoto (1762-1782), R.T Turto Koesoemo (1782-1812), R.T Prawiro Joedho (182-1823), R. Tirto Nagoro (1823-1842), R.T Aryo Tjokronegoor I (1842), R.A Tirtonagoro IB (1743-1847), R. T Pandji Noto Nagoro (1847-1857), R.T Tjokronagoro II (1873-1886), R.M.T.A Tjokroanoro III (1886-192), dan R.M Said Abdul Kadir Jaelani (1912-1926).

Adapun letaknya berada di Ngadipurwo, kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

7. Masjid Agung Baitunnur

Arsitektur dari masjid Agung Baitunnur Blora hampir mirip dengan yang ada di Masjid Agung Demak, yakni dengan ciri khas atap susun tiga. Sedangkan di masjid ini pada puncak atapnya terdapat mustoko yang terbuat dari logam.

Masjid ini pertama kali diririkan pada 1774 saat masa pemerintahan Bupati R.T Djajeng Tirtonoto. Dan dipugar pada tahun 1968 dan 1975 pada kekuasaan Bupati Supadi Yudhodarmo dengan penambahan menara. Sedangkan mimbarnya yang bertuliskan khot Arab dan Jawa.

Sedangkan posisinya yang berada di tengah kota dekat alun-alun seringkali ramai untuk dijadikan tempat ibadah. Bahkan tidak jauh dari masjid Agung Baitunnur terdapat makam Sunan Pojok.

Demikian informasi tempat wisata religi yang perlu kamu tahu di Blora karena menyimpan banyak sejarah dan cerita penggugah jiwa. Jangan lupa selama untuk menjaga sikap dan tata krama selama berjkunjung. ( sumber : Harianmuria.com)

Waduk Tempuran

Waduk Tempuran, merupakan objek wisata alam yang berupa bendungan yang tercipta dari tiga sumber mata air dan sungai yang terletak di desa Tempuran Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jateng.

Keberadaannya menambah daya tarik wisatawan ke Blora sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil minyak bumi, kayu jati, tempat kuliner sate dan lontong Ngloram, budaya seni tayuban dan barongan serta memiliki banyak obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata alam,sejarah, budaya dan releji yang layak untuk dinikmati bersama keluarga.

Jarak menuju lokasi wisata waduk Tempuran dari pusat kota atau Alun-alun kota Blora sekitar 11 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Wisata alam waduk Tempuran buka setiap hari mulai dari jam 8.00-18.00 WIB.

Waduk Tempuran pertama kali dibangun pada tahun 1912-1916 dengan spesifikasi antara lain:Volume:2.092.000 m3,luas catchment:4,3 Km2,luas layanan:923 ha dan elevasi:120,60 m.

Saat ini Waduk Tempuran selain sebagai tempat wisata yang cocok bagi keluarga, juga memiliki peran sebagai penampungan air untuk warga dan PDAM, untuk kepentingan pengairan air Pertanian, budidaya ikan darat dan menyediakan air untuk ternak sapi serta mencegah banjir.

Waduk Tempuran juga sebagai tempat untuk latihan atlet dayung dan destinasi wisata kuliner serta wisata Agribisnis. Bahkan di sekitar waduk Tempuran telah menawarkan beragam konsep wisata mulia wisata petik buah jambu dan wisata budaya.

Sementara ditepinya waduk Tempuran telah tergelar berbagai cafe dan resto yang dilengkapi fasilitas wisata kolam renang, wahana selancar air dan berbagai kuliner dengan menu makan dan harga yang merakyat, tempat penginapan, gazebo serta berbagai macam spot foto instagenic.

Tidak kalah menarik hadirnya panorama alam yang mendamaikan hati dan sensasi memancing di waduk tempuran serta merasakan nikmatnya bersama keluarga berkeliling waduk Tempuran tempuran dengan memakai perahu dengan biaya murah.

Berkenaan dengan keindahan dan keistimewaan yang disajikan oleh distinasi wisata Waduk Tempuran ternyata telah mampu memberi daya tarik bagi para wisatawan yang berasal baik dari Kabupaten Blora maupun di luar Kabupaten Blora.

Terutama pada saat hari libur sekolah dan hari minggu banyak wisatawan bersama keluarga yang datang untuk menghibur dan menikmati wisata kuliner ke Waduk Tempuran.

Manganan Janjang


Rangkaian acara tradisi Manganan Janjang di Desa Janjang Kecamatan Jiken yang merupakan salah satu potensi wisata budaya di Kabupaten Blora digelar setiap tahun. Serangkaian acara dalam rangka Manganan Janjang sebagai wujud rasa syukur masyarakat desa kepada Sang Maha Pencipta telah diawali dengan acara pengajian akbar Haul Eyang Jatisuwara dan Eyang Jatikusuma.

Manganan Janjang diawali dengan pengajian akbar Haul Eyang Jatisuwara dan Jatikusuma, setelah itu acara akan berlanjut dengan pementasan wayang krucil dan puncaknya digelar kenduri massal dilanjutkan wayang krucil kembali bertempat di komplek Pesarean Eyang Jatisuwara-Jatikusuma.

Pementasan wayang krucil peninggalan Eyang Jatisuwara-Jatikusuma menjadi satu moment yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Wayang krucil yang dipentaskan tersebut tidaklah wayang biasa, namun wayang warisan peninggalan Eyang Jatisuwara-Jatikusuma yang dimainkan turun-temurun setahun sekali setiap gelaran acara Manganan Janjang.

Wayang krucil itu warisan budaya dari Eyang Jatisuwara-Jatikusuma yang dahulu dimanfaatkan untuk menyebarkan agama islam di wilayah Desa Janjang dan sekitarnya. Sebagai penghormatan dan mengenang jasanya tersebut, setiap tahun dipentaskan disaat acara manganan atau sedekah bumi.

Selain pementasan wayang krucil, juga digelar kenduri massal. Semua warga desa akan membawa tumpeng, jananan, dengan bungkus khas daun jati untuk dibagikan secara massal kepada semua pengunjung acara manganan yang setiap tahun selalu dihadiri ribuan orang dari berbagai wilayah.

Ratusan PKL nanti biasanya akan memadati kawasan Pesarean Eyang Jatisuwara-Jatikusuma untuk meraup rejeki dari para pengunjung Manganan Janjang dan peziarah.

Manganan Janjang memang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya tahunan di Kabupaten Blora. Bertempat di areal pesarean Eyang Jatisuwara-Jatikusuma yang berada di atas bukit, banyak pengunjung dari berbagai kota dipastikan akan datang. Pemandangan alam yang cantik di bukit pasujudan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal.

Haritage Trainz Loco Tour


Kabupaten Blora di Jawa Tengah memiliki kekayaan wisata yang beragam. Wilayah ini tidak hanya menawarkan pesona alam, seperti Goa Terawang yang eksotis, tetapi juga wisata budaya, seperti Barongan yang sarat nilai tradisi lokal. Keunikan lanskap alam yang berpadu dengan kearifan budaya menjadikan Blora sebagai destinasi wisata yang memiliki karakter kuat dan berbeda dari daerah lain.

Di antara ragam wisata tersebut, Blora juga menyimpan wisata sejarah yang patut diperhitungkan, salah satunya adalah Heritage Trainz Loco Tour. Wisata ini berlokasi di Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Cepu, tepatnya di Jl. Serogo, Desa Ngelo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Berada di tengah kawasan hutan jati, Heritage Trainz Loco Tour menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyuguhkan suasana alam yang asri dan menenangkan.

Heritage Trainz Loco Tour merupakan wisata kereta api bersejarah yang telah ada sejak masa kolonial Belanda. Jalur kereta api di kawasan ini mulai dibangun sekitar tahun 1915 dan difungsikan sebagai sarana pengangkutan kayu jati hasil hutan Perhutani. Jalur tersebut sempat beroperasi hingga akhir 1990-an sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi jalur wisata. Kini, kereta tua peninggalan sejarah tersebut dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi yang memperkenalkan jejak perkeretaapian masa lalu kepada wisatawan.

Buat anda yang ingin merasakan sensasi menaiki kereta tua, Heritage Trainz Loco Tour menyediakan jadwal reguler kereta Ruston sebagai salah satu armada wisata. Tiket masuk kawasan wisata dibanderol Rp10.000 per orang, sedangkan tiket perjalanan kereta dikenakan biaya Rp20.000 per orang.

Untuk informasi dan reservasi, pengunjung dapat menghubungi Instagram resmi Heritage Trainz Loco Tour Cepu atau nomor 0821-3337-5487. Ayo, rasakan perjalanan unik dan berkesan bersama Haritage Trainz Loco Tour.

Waduk Greneng


Waduk Greneng di Blora bukan sekadar bendungan air biasa. Terletak di jantung Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, waduk ini menyimpan panorama yang belum banyak disentuh tangan wisatawan luas. Dengan hamparan air seluas sekitar 45-64 hektar yang dikelilingi hutan jati legendaris, suasana alami di Waduk Greneng mengajarkan kita arti ketenangan, jauh dari hingar-bingar kota.

Waduk Greneng berlokasi di Dukuh Greneng, Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sekitar 12 km ke arah barat laut dari pusat Kota Blora, mudah diakses roda dua maupun empat.

Tiket masuknya Rp3.000–Rp5.000 per orang. Parkir sepeda motor Rp2.000, mobil Rp5.000–Rp10.000. Untuk penyewaan perahu, cukup dengan Rp5.000 sekali keliling. Harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola. Selalu cek info terbaru sebelum berangkat.

Ada beberapa keunikan Waduk Greneng, antara lain:

1. Ada Sejak Masa Kolonial Belanda

Waduk Greneng merupakan salah satu waduk tertua di Blora yang dibangun sejak era kolonial Belanda pada tahun 1919? Usianya yang menembus satu abad menghadirkan jejak sejarah di tengah lanskap alam dan menjadikan tempat ini sebagai situs bersejarah, bukan hanya sekadar wisata air saja.

2. Fungsinya Bukan Sekadar Wisata

Selain tempat rekreasi, waduk ini berperan vital sebagai sumber irigasi pertanian warga setempat dan habitat pembesaran berbagai jenis ikan air tawar. Masyarakat sekitar sangat lekat dengan keberadaan waduk ini sebagai sumber kehidupan, yang hasil panennya, termasuk ikan segar, bisa kamu nikmati langsung di sekitar lokasi.

3. Dikeilingi Hutan Jati dan Bukit Eksotis

Daya pikat lain yang jarang diketahui adalah lanskap sekeliling waduk yang diapit hutan jati KPH Mantingan dan perbukitan eksotis, seperti Bukit Cemoro Pitu. Panorama ini membentuk latar alami menakjubkan, sempurna dijadikan spot piknik, fotografi, atau sekadar bersantai di bawah rindangnya pepohonan.

4. Tradisi Sedekah Bumi dan Mitos Lokal

Desa Tunjungan, tempat berdirinya Waduk Greneng, memiliki tradisi unik sedekah bumi yang diadakan setiap habis panen. Ada juga mitos lokal bahwa masyarakat percaya setelah itu hasil panen akan berlimpah. Tradisi dan mitos ini memperkuat nuansa kultur khas yang menyatu dengan keindahan alam setempat.

5. Destinasi Agrowisata dan Kuliner Lokal

Waduk Greneng kini makin berkembang sebagai kawasan agrowisata. Pengunjung bisa melihat dan memetik langsung buah-buahan seperti durian dan kelengkeng saat panen raya. Selain itu, masyarakat sekitar menjajakan olahan kuliner lokal, kerajinan tangan, serta ikan segar hasil tangkapan waduk sebagai oleh-oleh.

Fasilitas dan Aktivitas Seru

- Menyewa perahu wisata keliling waduk, menikmati keindahan dari tengah danau.
- Ajang memancing favorit, terutama bagi penggemar olah raga sambil bersantai.
- Spot foto alam di dermaga perahu, tepi waduk, atau kawasan bukit berlatar hutan.
- Kuliner ikan bakar dan hasil bumi yang dijajakan warga. 

Jika beruntung, kamu bisa menyaksikan sunrise pagi hari dari pinggir dermaga, momen yang sangat dicari para pencinta fotografi.

Waduk Greneng, adalah paket lengkap keindahan alam, sejarah hidup, dan tradisi yang terus terjaga. Bukan hanya menenangkan hati lewat panorama hutan nan asri, tetapi juga memberi pelajaran akan kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Blora. Saat senja menutup hari di tepi waduk, setiap pengunjung diajak pulang dengan hati penuh ketenteraman dan pengalaman tak terlupakan.

Popular Posts

Labels

close