Untuk Anda Kami Ada

Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Waduk Greneng


Waduk Greneng di Blora bukan sekadar bendungan air biasa. Terletak di jantung Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, waduk ini menyimpan panorama yang belum banyak disentuh tangan wisatawan luas. Dengan hamparan air seluas sekitar 45-64 hektar yang dikelilingi hutan jati legendaris, suasana alami di Waduk Greneng mengajarkan kita arti ketenangan, jauh dari hingar-bingar kota.

Waduk Greneng berlokasi di Dukuh Greneng, Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sekitar 12 km ke arah barat laut dari pusat Kota Blora, mudah diakses roda dua maupun empat.

Tiket masuknya Rp3.000–Rp5.000 per orang. Parkir sepeda motor Rp2.000, mobil Rp5.000–Rp10.000. Untuk penyewaan perahu, cukup dengan Rp5.000 sekali keliling. Harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola. Selalu cek info terbaru sebelum berangkat.

Ada beberapa keunikan Waduk Greneng, antara lain:

1. Ada Sejak Masa Kolonial Belanda

Waduk Greneng merupakan salah satu waduk tertua di Blora yang dibangun sejak era kolonial Belanda pada tahun 1919? Usianya yang menembus satu abad menghadirkan jejak sejarah di tengah lanskap alam dan menjadikan tempat ini sebagai situs bersejarah, bukan hanya sekadar wisata air saja.

2. Fungsinya Bukan Sekadar Wisata

Selain tempat rekreasi, waduk ini berperan vital sebagai sumber irigasi pertanian warga setempat dan habitat pembesaran berbagai jenis ikan air tawar. Masyarakat sekitar sangat lekat dengan keberadaan waduk ini sebagai sumber kehidupan, yang hasil panennya, termasuk ikan segar, bisa kamu nikmati langsung di sekitar lokasi.

3. Dikeilingi Hutan Jati dan Bukit Eksotis

Daya pikat lain yang jarang diketahui adalah lanskap sekeliling waduk yang diapit hutan jati KPH Mantingan dan perbukitan eksotis, seperti Bukit Cemoro Pitu. Panorama ini membentuk latar alami menakjubkan, sempurna dijadikan spot piknik, fotografi, atau sekadar bersantai di bawah rindangnya pepohonan.

4. Tradisi Sedekah Bumi dan Mitos Lokal

Desa Tunjungan, tempat berdirinya Waduk Greneng, memiliki tradisi unik sedekah bumi yang diadakan setiap habis panen. Ada juga mitos lokal bahwa masyarakat percaya setelah itu hasil panen akan berlimpah. Tradisi dan mitos ini memperkuat nuansa kultur khas yang menyatu dengan keindahan alam setempat.

5. Destinasi Agrowisata dan Kuliner Lokal

Waduk Greneng kini makin berkembang sebagai kawasan agrowisata. Pengunjung bisa melihat dan memetik langsung buah-buahan seperti durian dan kelengkeng saat panen raya. Selain itu, masyarakat sekitar menjajakan olahan kuliner lokal, kerajinan tangan, serta ikan segar hasil tangkapan waduk sebagai oleh-oleh.

Fasilitas dan Aktivitas Seru

- Menyewa perahu wisata keliling waduk, menikmati keindahan dari tengah danau.
- Ajang memancing favorit, terutama bagi penggemar olah raga sambil bersantai.
- Spot foto alam di dermaga perahu, tepi waduk, atau kawasan bukit berlatar hutan.
- Kuliner ikan bakar dan hasil bumi yang dijajakan warga. 

Jika beruntung, kamu bisa menyaksikan sunrise pagi hari dari pinggir dermaga, momen yang sangat dicari para pencinta fotografi.

Waduk Greneng, adalah paket lengkap keindahan alam, sejarah hidup, dan tradisi yang terus terjaga. Bukan hanya menenangkan hati lewat panorama hutan nan asri, tetapi juga memberi pelajaran akan kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Blora. Saat senja menutup hari di tepi waduk, setiap pengunjung diajak pulang dengan hati penuh ketenteraman dan pengalaman tak terlupakan.

Banyu Bening Tinapan


Banyu Bening Tinapan merupakan salah satu desa wisata yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah yang menawarkan atraksi wisata budaya ,wisata alam ,dan wisata edukasi. Hanya berjarak sekitar 29 km dari Kabupaten Blora dengan waktu tempuh 38 menit dan berjarak 133 km darai ibukota Provinsi Jawa Tengah dengan waktu tempuh 235 menit. Banyu Bening merupakan desa wisata dengan konsep alam yang diberkahi dengan potensi wisata air yang sangat melimpah.

Terdapat 3 Sumber mata air yang mempunyai fungsi dan manfaat yang berbeda. 3 Sumber mata air tersebut ialah

1. Waduk Bentolo

Bendungan atau Waduk yang memiliki sumber air yang melimpah selain menjadi icon wisata Kabupaten Blora juga menjadi sarana perairan pertanian bagi masyarakat setempat. Sejarah yang menarik dalam pembangunan Waduk Bentolo di bangun oleh Kesatuan Hansip Se Kabupaten Blora di masa Belanda.

2.Sendang Putri

Sumber Mata Air yang di percya warga setempat bagi siapa yang mandi di sendang tersebut maka jodohnya akan segera mendekat,di samping sendang terdapat 2 Pohon Kleumpit yang berusia puluhan tahun berjenis Lanang dan Wadon.

3.Sendang Banger

Sumber Mata Air Belerang yang dipercaya masyarakat setempat sebagai sarana pengobatan penyakit kulit.Dengan cara mandi atau berendam di Sendang Banger yang airnya hangat tidak terlalu panas dan aman.

Selain keberlimpahan sumber air Desa Tinapan juga memiliki sejumlah Goa seperti Goa Kidang, Goa lowo dan goa – goa lainnya serta fosil manusia purba yang mampu memberikan edukasi sejarah bagi para pengunjung Desa Wisata Tinapan,

Selain Wisata Alam adapula Wisata Budaya lokal desa yang melestarikan budaya adat jawa yaitu Tarian Tayub/Karawitan yang khas dari Desa Tinapan,Termasuk wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas desa yang ramah lingkungan yang di kemas dalam acara mapak tamu.

Di Desa Wisata Tinapan selain wisata budaya,wisatawan juga bisa menikmati sunrise di bukit kera yang berada tidak jauh dari wisata banyu bening ,wisatawan bisa konservasi penanaman tumbuhan di wisata Bukit Kera, kemudian belajar beternak kambing dan sapi milik warga.

Wisatawan bisa mengakhir kegiatan dengan ber agro-wisata di kebun dan kolam ikan sekaligus bisa membawa ikan dan bua-buahan sebagai oleh - oleh.

Berkunjung di Desa Wisata Banyu Bening Tinapan harus mencoba paket wisata budaya. selain melihat langsung, wisatawan juga bisa mewarnai replika patung wayang thengul, belajar ndalang, belajar gamelan, belajar tari tayub dan makan malam dengan model kenduren.

Rekomendasi kunjungan ke Banyu Bening Tinapan

Selain menawarkan sensasi potensi airnya yang melimpah dengan keanekaragaamn manfaatnya ,Desa Wisata Banyu Bening juga merekomendasikan kepada wisatawan selain berkunjung di wisata Banyu Bening di sekitar lingkup wisata ada wisata alam seperti aliran sungai dan Air Terjun memberikan suasana segar untuk wisatawan.

Dan juga Edukasi berupa bermacam-macam Goa -Goa peninggalan zaman dahulu yang kini di juluki masyarakat setempat dengan nama antara lain: Gua Kera,Gua Kidang,Gua Lawa,Gua Celeng & Gua Banyu (Air) selain itu dulu juga pernah di temukan fosil manusia purba yang di temukan oleh ahli di bidang tersebut yang berasala dari Bogor,Jawa Barat.

Selain itu juga tidak jauh jaraknya terdapat Gua Terawang yang sudah lama menjadi icon Wisata Andalan di Kabupaten Blora. Selain itu juga bekerjasama untuk wisata Edukasi Proses Pembuatan Gula yang terdapat di Pabrik Gula GMM letaknya tidak jauh dari wisata banyu bening ,Pabrik tersebut terbesar di Kabupaten Blora.

Dengan beberapa tempat yang kami rekomendasikan semoga membuat wisatawan tertarik dan berkunjung lagi ke Banyu Bening Tinapan.

Goa Kidang


Goa Kidang di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, adalah situs arkeologi penting dan wisata sejarah yang populer. Goa ini terkenal dengan temuan kerangka "Manusia Karst" berusia 7.700 - 9.600 tahun dari Zaman Holosen. Situs ini berdekatan (sekitar 2,8 km) dengan Goa Terawang, menjadikannya destinasi edukasi yang mudah diakses.

Beberapa hal penting mengenai Goa Kidang Di Blora:

Situs Arkeologi dan Sejarah

Goa Kidang pernah menjadi tempat hunian manusia prasejarah. Peneliti menemukan kerangka manusia (Manusia Karst), artefak, cangkang moluska, tulang hewan, dan perkakas batu.

Lokasi Dan Akses Jalan

Terletak di Desa Tinapan, Todanan, Blora, dan mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun empat. Lokasinya berdekatan dengan Wana Wisata Goa Terawang.

Daya Tarik

Selain nilai sejarah yang kental, goa ini menawarkan pengalaman wisata edukasi mengenai kehidupan manusia masa lampau, didukung lingkungan hutan jati yang asri.

Fasilitas

Sebagai cagar budaya yang dikelola oleh Pemkab Blora, tempat ini terus dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah.

Tips Wisata

Karena dekat dengan Goa Terawang, pengunjung sering kali merencanakan kunjungan ke kedua tempat tersebut dalam satu waktu untuk memaksimalkan pengalaman, terutama karena Goa Terawang juga menawarkan keindahan stalaktit dan stalagmit.

Goa Kidang Di Desa Tinapan, merupakan destinasi tepat bagi pecinta sejarah dan arkeologi yang ingin menjelajahi jejak kehidupan purba di Jawa Tengah.

Bukit Kunci

Bukit Kunci - Bangowan

Bukit Kunci yang dikelola BUMDes dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bangowan Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora tampil dengan wajah baru dengan dibangunnya fasilitas glamping di lokasi.

Glamping kayu berbentuk seperti kerucut itu disediakan bagi pengunjung yang ingin bermalam di lokasi wisata alam Bukit Kunci, menikmati suasana malam, melihat bintang dan bulan. Dibandrol harga Rp80.000,00 per malam, akan mendapatkan fasilitas pendukung seperti aula, musala, wi-fi, warung makan dan minuman serta toilet.

Bagi warga yang ingin menikmati suasana malam jauh dari kebisingan dan keramaian, Bukit Kunci menjadi salah satu alternatif untuk merelaksasi. Glamping, merupakan aktivitas berkemah dengan gaya yang lebih mewah dan nyaman daripada kegiatan berkemah di tenda.

Meskipun ada tanaman yang kering dan layu di musim kemarau, namun sebanyak 19 pohon cemara yang ditanam di kawasan wisata alam Bukit Kunci tampak subur dan rindang.

Beberapa hal terus berbenahi, sudah mulai mengembangkan digitalisasi dengan transaksi pembelian produk lewat Qris dan kerja sama dengan platform digital Atourin untuk promosi paket wisata.

Bukit Kunci merupakan salah satu bagian dari paket wisata desa Bangowan yang menampilkan panorama alam.

Wono Aji

Flying Fox Di Wono Aji

Wono Aji Kedungtuban memiliki daya tarik yang beragam, mulai dari flying fox, swafoto eksotik, arena trabas ke puncak Gunung Purwosuci hingga edukasi sumur minyak peninggalan Kolonial Belanda. Wisata tersebut tergolong baru di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Daerah ini berada di kawasan hutan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Cepu. Tepatnya di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban.

Wono Aji Kedungtuban dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ngraho, bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. Pesona alam dan edukasi sumur minyak tua di kawasan hutan Kedinding menjadi daya tarik tersendiri. Pihak pengelola juga menyediakan tempat swafoto, flaying Fox, arena trabas, serta rute Jeep menyusuri pegunungan kedinding.

Di kawasan pegunungan kedinding terdapat puluhan titik sumur tua yang pernah beroperasi. Namun, sejak beberapa tahun belakangan ini sumur-sumur tersebut tidak lagi beroperasi. Kepala Desa akan mencoba mendapatkan izin pengelolaan untuk keperluan wisata. Alasannya lokasi Wono Aji Kedungtuban mudah dijangkau, berada di tepi Jalan Cepu-Randublatung.

Diharapkan wisata tersebut bukan hanya menjadi ikon Desa Ngraho, melainkan ikon Kecamatan Kedungtuban, dan Blora pada umumnya. Disamping wisata edukasi sumur minyak tua, Wono Aji Kedungtuban juga menawarkan sejumlah edukasi lain bagi pengunjung. Diantaranya pembuatan garam tradisional, pembuatan sepatu/sandal, dan pembuatan angklo atau pawon di Dukuh Ningalan Desa Ngraho.

Selain itu, ada juga air terjun dua bidadari di tengah hutan serta trip ke puncak Purwosuci dan Gunung Kedinding dengan menggunakan mobil jeep. Fasilitas dan keindahan itu akan segera dikembangkan agar trip wisata tersebut bisa menembus Desa Kalen melalui kerjasama dengan BUMDes antar desa.

Wono Aji berada di lahan Perhutani seluas dua hektar, keberadaan wisata ini diharapkan dapat menumbuhkan usaha baru yang dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi warga sekitar. Apabila gagasan ini terlaksana maka warga tidak lagi menebang pohon, tapi justru ikut menjaga dan melestarikan demi berkembanganya wisata di daerah tersebut.

Kampung Samin

Kampung Samin - Sedulur Sikep


Desa Sambongrejo di Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, dimana kampung literasi sedulur Sikep atau lebih dikenal sebagai kampung Samin itu berada. Disini anda akan diajak untuk mengenal, berdialog, berinteraksi, dengan warga Samin, belajar dari sifat kejujuran dan Kesederhanaan dari masyarakat samin.

Selain itu juga akan disuguhi disuguhi kesenian Warga Samin berupa Gejog Lesung dan Drumblek, Kuliner asli Warga Samin, dan masih banyak potensi wisata lainnya, seperti belajar membatik, menikmati keindahan persawahan, kunjungan ke tempat bersejarah lainnya.

Desa Wisata Sambongrejo dikenal akan kearifan lokal sedulur sikep Samin. Anda akan belajar banyak tentang pitutur atau nasihat bijak dari para sesepuh Sedulur Sikep. Sambil lesehan menikmati kudapan tradisional khas desa seperti gethuk, ketela rebus, kacang rebus, wisatawan bisa menyimak cerita sejarah ajaran hidup serta tradisi Sedulur Sikep di Pendapa Agung Kampung Samin.

Sebelum memasuki Kampung Samin, pengunjung diajari memakai iket samin atau ikat kepala (udeng) dan disambut dengan atraksi kesenian tradisional, seperti drumblek dan Klothek Lesung yaitu musik dari alat penumbuk padi.

Anda juga dapat menikmati minuman khas Wedang Cangkruk sebagai welcome drink di Desa Sambongrejo, yang merupakan desa wisata terbaik di Blora. Minuman tradisional merupakan olahan dari jahe, sereh, secang yang menciptakan efek warna alami.

Selain itu ada Krowotan, istilah untuk camilan selamat datang yang berupa aneka penganan tradisional seperti kacang rebus, tape, lemper, nagasari dll. Wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh seperti peyek kacang, rengginang atau krecek, dan madu mongso ketan.

Goa Sentono

Goa Sentono

Goa Sentono merupakan tempat wisata alam yang dipadu dengan kisah sejarah tersendiri, dan menjadi salah satu cagar budaya yang wajib untuk dikunjungi ketika berada di Kabupaten Blora.

Keunikan dan keindahan Goa Sentono mempunyai nilai dan daya tarik tersendiri, dimana batuan alami yang indah berpadu dengan hijaunya area pesawahan menciptakan pemandangan yang sangat unik.

Lokasinya lebih dekat jika ditempuh dari Kecamatan Cepu atau Randublatung. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi goa ini. Namun jangan heran sepanjang perjalanan akan banyak melihat landscape pemandangan sawah, hutan dan pegunungan.

Akses ke lokasi goa ini bisa ditempuh dengan motor. Sesampainya di lokasi Dukuh Sentono Desa Mendenrejo ada semacam gubuk kecil untuk berteduh. Dari gubuk tersebut ke Goa Sentono harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter. Goa sentono persis ada di pinggiran Sungai Bengawan Solo.

Goa Sentono berada di pegunungan kapur. Bibir goa tidak jauh dari tebing Sungai Bengawan Solo. Lebar goa sekitar 3 meter dengan ketinggian sekitar 2,5 meter dan kedalaman hingga sekitar 10 meter. Jika dilihat ke dalam bentuknya semakin mengerucut. Sehingga semakin ke dalam pengunjung harus membungkuk. Bagian dalam goa terlihat gelap karena minimnya penerangan.

Sebelum memasuki kawasan goa, pengunjung merasa seperti berada di lembah. Sepanjang mata memandang terdapat hamparan Sungai Bengawan Solo dari ketinggian tertentu. Hawa sejuk menyapa dikala angin berhembus. Tentu pemandangan alam disebelah sungai terpanjang di Pulau Jawa ini menjadi suatu suguhan wisata yang mengguratkan keindahan.

Dari lembah tersebut berjalan menurun di bebatuan 200 meter pengunjung harus berhati-hati karena jalan bebatuan cukup curam. Dari atas hanya tampak batu besar. Namun setelah sampai di bawah barulah kelihatan Goa Sentono.

Perpaduan pegunungan, goa dan sungai ini justru menjadi daya tarik para penghobi fotografi. Sering para fotografer datang ke Goa Sentono. Cukup banyak angle saat memotret di lokasi ini. Kebanyakan yang kesini para remaja.

Goa Sentono juga sarat nilai sejarah. Banyak versi yang menjelaskan bahwa goa ini ada kaitannya dengan sejarah Desa Mendenrejo, namun dengan versi yang berbeda-beda dari cerita rakyat setempat. Ada yang mengatakan berkaitan dengan cerita Blacak Ngilo dan Sunan Bonang.

Blacak Ngilo adalah seorang prajurit Majapahit yang melarikan diri saat perang saudara memperebutkan kekuasaan Majapahit. Ada pula yang mengatakan bahwa goa ini dulu pernh dijadikan tempat semedi Sunan Bonang untuk bertapa di tepi Sungai Bengawan Solo.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Goa Sentono, penting untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membawa bekal yang cukup, serta berhati-hati selama perjalanan. Goa Sentono bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga situs budaya yang penuh dengan sejarah dan cerita mistis yang patut dilestarikan.Paket liburan terbaik

Goa Sentono adalah pilihan tepat bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam dengan nilai-nilai sejarah. Pesona alam dan keunikan sejarahnya membuat Goa Sentono menjadi salah satu destinasi yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Blora.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan

Komplek Makam Gedong Ageng Jipang

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, (berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu) berupa makam Gedong Ageng. Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil.

Pada jamannya tempat ini merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang. Di tempat ini ada makam kerabat Kadipaten Jipang, diantaranya makam R. Bagus Sosrokusumo, R. Bagus Sumantri, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Peninggalan lainnya adalah Makam Santri Songo, yang berada di sebelah Utara Makam Gedong Ageng, berupa makam sembilan santri yang diduga mata-mata Pajang yang ditangkap dan dibunuh oleh prajurit Jipang.

Selain itu ada juga Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid Jipang Panolan, Petilasan Semayam Kaputren, dan Petilasan Siti Hinggil.

Menurut juru kunci Makam Gedong Ageng, Salekun (50), setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke makam. Tidak saja dari daerah di sekitarnya, tapi juga dari luar daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini, banyak pula yang datang dengan hajat tertentu.

Setiap pengunjung Petilasan Kadipaten Jipang Panolan ini harus menjaga sopan santun, terutama saat masuk ke lingkup makam. Menurut juru kunci Salekun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan itu antara lain dilarang membawa benda-benda yang ada di lingkungan makam, bahkan secuil tanah pun.

Pengunjung juga diminta untuk uluk salam terlebih dahulu saat akan masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada dalam kompleks makam.

“Kalau pantangan-pantaangan ini dilanggar biasanya ada kejadian yang tidak baik menimpa orang tersebut”, ujarnya.

Warga Jipang juga memiliki tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini disebut dengan manganan dan biasanya dilakukan di makam Gedong Ageng. Setidaknya ada tiga acara manganan, yakni saat turun hujan pertama kali, saat tanam padi, dan saat panen. Acara ini biasanya disertai dengan pertunjukan seni tradisi, seperti ketoprak, wayang krucil, wayang kulit, atau seni tradisi yang lain.

Kampung Durian Nglawungan

Kampung Durian Nglawungan


Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah kini semakin indah dan menarik. Letaknya tidak jauh dari kota Blora, hanya sekitar 11 Km dengan akses jalannya sudah cukup bagus untuk dilalui kendaraan roda empat, maupun roda dua.

Menariknya di kampung durian nglawungan sekarang sudah dibangun joging track, sehingga pengunjung bisa berolahraga, bisa memetik sendiri buah durian dan makan ditempat. Rasanya pun legit dan bikin ketagihan, jenis duriannya ada Montong, Tampar, dan lokal.

Pengunjung di kampung durian nglawungan tidak hanya dari warga lokal Blora saja, namun datang dari luar kota, seperti Semarang, Rembang dan Kabupaten terdekat yang lainnya.

Kampung Durian Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini tergolong legendaris. Ini lantaran sebelum menjadi destinasi wisata kampung durian tahun 2017 oleh Pemerintah Desa di Blora. Penduduk setempat sudah menanami lahannya dengan pohon durian. Dan para penduduk ini mewarisinya dari para leluhurnya terdahulu.

Konon katanya setiap tahun sekali saat musim panen. Para penduduk mengadakan sedekah terlebih dahulu berupa nasi ingkung atau nasi tumpeng dengan ayam bakar utuh. Dengan harapan agar hasil panennya melimpah.

Untuk melestarikan budaya kearifan lokal itu, Kepala Desa setempat tetap melaksanakan sedekah tersebut hingga sekarang. Sedekah itu bernama sedekah Durian.

Goa Terawang

Goa Terawang - Todanan

Goa Terawang Todanan di Kedung wungu Blora Jawa tengah adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa kedung wungu, kecamatan todanan, kabupaten blora, provinsi jawa tengah. Lokasinya berjarak 32 kilometer arah barat Kota Blora atau 107 kilometer dari Kota Semarang.

Untuk menuju ke Goa Terawang sudah tersedia jalan desa yang mulus, dapat ditempuh dari Semarang-Purwodadi-Wirosari menuju ke Kunduran Kabupaten Blora. Tepat di pertigaan depan Puskesmas Kunduran, pengunjung bisa belok kiri melintasi jalan desa yang mulus sepanjang lebih kurang 8 kilometer.

Goa Terawang berada persis di tepi jalan. Kalau dari Blora, pengunjung menuju ke arah pertigaan Pasar Ngawen, kemudian membelok ke kanan melintasi jalan menuju ke Japah, Padaan, Ngapus, hingga Todanan atau sekitar 10 kilometer.

Goa Terawang ini sudah dikenal sejak zaman raja-raja Jawa untuk tempat bertapa guna memperoleh kekuatan mistis.Pada masa pemerintahan Belanda, Goa Terawang ini banyak menyimpan sejarah karena sering digunakan untuk pertemuan Bupati Blora semasa RMA Cokronegoro dengan pejabat-pejabat Belanda. Namun, pada masa perang kemerdekaan, Goa Terawang ini menjadi daerah pertahanan bagi para pejuang.

Goa Terawang merupakan kompleks goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan, ini terbanyak di Jateng. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu terdapat satu goa induk, satu sendang, dan lima goa kecil lainnya. Merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang di siang hari karena terkena sinar matahari.

Disekitar kawassan Goa Terawang terdapat arena bermain anak yang terletak 50 meter dari mulut goa, yang terasa sejuk karena dipayungi ratusan pohon jati besar.

Suasana baru di Goa Terawang

Kondisi Gua Terawang saat ini mulai dibenahi, pengunjung bisa bersantai di dalam gua sekaligus menikmati keindahan stalaktit ratusan tahun. Hal itu lantaran, di dalam gua disediakan kursi dan meja dengan lampu-lampu hias warna-warni, yang semakin memanjakan mata pengunjung.

Waktu yang tepat untuk berkunjung di gua ini adalah saat siang hari, karena keindahan gua ini akan semakin terlihat saat sinar matahari mulai masuk ke dalam gua melalui lubang-lubang kecil yang ada di langit-langitnya.

Administratur Perum Perhutani KPH Blora, Yeni Ernaningsih, mengatakan: Gua Terawang ini merupakan salah satu obyek wisata yang dimiliki oleh perum Perhutani yang terletak di wilayah pangkuan perum Perhutani KPH Blora yang terletak di RPH Kalonan BKPH Kalonan.

Noyo Gimbal

Noyo Gimbal - Desa Bangsri

Desa Bangsri di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, kini memiliki ikon baru yang menambah daya tarik wisatanya. Sebuah patung megah yang menggambarkan sosok Noyo Gimbal atau Noyo Sentiko, tokoh legendaris dalam sejarah perjuangan rakyat Blora, resmi berdiri dan mulai menyedot perhatian banyak wisatawan.

Antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap Patung Noyo Gimbal begitu tinggi. Setiap akhir pekan, lokasi ini dipadati pengunjung yang ingin berfoto maupun mengenal lebih jauh kisah heroik Noyo Gimbal. Fenomena ini juga berdampak positif terhadap ekonomi warga, dengan meningkatnya pendapatan dari usaha kecil seperti kuliner dan cenderamata.

Lebih jauh, Pemerintah Desa Bangsri telah merancang pengembangan kawasan sekitar menjadi taman edukasi sejarah. Dengan konsep ini, wisatawan akan diajak mengenal lebih dalam perjalanan perjuangan rakyat Blora melalui cara-cara interaktif dan menyenangkan, memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal.

Patung Noyo Gimbal tidak hanya menjadi lambang estetika, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan warisan budaya Blora kepada generasi muda. Dengan pendekatan kreatif, desa ini membuktikan bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan wisata.

Noyo Gimbal, sebuah kawasan wisata alam dan pertanian, Desa Bangsri telah menarik perhatian banyak wisatawan sejak dibuka pada Juni 2023. Dibangun dengan semangat swadaya, bantuan dana desa, dan dukungan Banprov, proyek ini menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong perekonomian masyarakat setempat.

Noyo Gimbal menawarkan pengalaman unik yang memadukan hijauan sawah, kolam mina padi, dan suasana pedesaan yang tenang. Pengunjung bisa menikmati suasana alam yang sejuk sambil menikmati spot-spot foto yang menarik. Dengan dukungan komunitas lokal dan inisiatif masyarakat, Noyo Gimbal tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan wadah kreativitas bagi penduduk desa.

Noyo Gimbal adalah contoh nyata bahwa visi, semangat, dan kerjasama, mengubah desa kecil menjadi destinasi wisata yang menarik. Melalui kesungguhan dan semangat gotong royong, Desa Bangsri membuktikan bahwa dari sawah sederhana, mimpi besar bisa terwujud dan mensejahterakan seluruh warga desa.

Popular Posts

Labels

close